0

Farewell, Friend

((Seluruh nama yang ada dalam cerita memang benar adanya, penyampaian dan alur cerita hanya fiktif belaka. Perspective: Orang ketiga))

“Apa sih yang kamu pikirkan?” bentak Xiumin. Wajahnya mulai memerah padam karena bercampurnya marah, sedih, dan kecewa pada leader-nya. “Kamu kira dengan keputusan bodohmu kita semua bisa menerimanya? Tidak kah kau bisa berpikir lebih jernih?”

Di lain pihak, pria jangkung itu hanya tertunduk tak berdaya. Ia tengah berada dalam titik dimana ia harus memeluk erat atau menampar keras temannya itu. Dengan segenap hati, ia sangat menyayangi semua orang yang kini berdiri di hadapannya, namun di sisi lain, ia tak bisa berlama-lama di tempat itu. Tempat di mana ia menghabiskan dua tahun penuh bersama keluarga barunya.

Maka, dengan menghela nafas panjang ia terus melangkah. Dengan tanpa sepatah kata melewati celah antara beberapa lelaki yang menunggu jawabannya. Ia tetap akan pergi hari itu juga. Tekadnya sudah bulat.

“Wu Yi Fan!” ulang Xiumin. Kini air matanya telah menerobos batas pelupuk matanya, mengalir melewati pipinya. “Jawab pertanyaanku!”

Tapi sang pria jangkung berambut pirang itu tetap tak acuh. Diambilnya koper hitam miliknya dan bersiap untuk bergegas keluar dari kerumunan yang penuh pilu. Namun, tak disangka sebuah pukulan hebat menghantam tulang pipinya. Tak ulung, raganya yang tinggi menjulang roboh. Jemarinya yang lentik menggenggam erat pipi kirinya yang mulai membiru dengan menahan perih. Ia ingin sekali membalas siapapun yang menyakitinya di tengah suasana hatinya yang kacau, namun hasratnya ia urungkan atas dasar cinta di antara mereka. Apapun yang sedang mereka pikirkan, ia mencoba untuk bisa memahaminya. Termasuk memahami kebencian tiada tara dari tiap individu.

Tao, pelaku penampar pria bernama Wu Yi Fan tadi, berdiri tepat di depannya. Dengan mimik merasa bersalah ditambah kebencian yang kuat, ia tatap Wu Yi Fan dalam-dalam. Mencoba mengartikan makna tersirat dalam tiap senti anggota tubuh wajahnya. Namun gagal. Wu Yi Fan terlalu sulit untuk ditebak. Ditambah dia tidak memiliki bakat untuk membaca raut wajah.

“Tao, tenangkan dirimu!” salah satu yang bernama Lu Han menghampiri Wu Yi Fan yang masih terduduk. Diikuti teman sejolinya, Sehun, juga Chen.

Lu Han mencoba untuk berinteraksi dengan Wu Yi Fan dengan cara yang lain. Apapun yang akan dia katakan, ia yakin Wu Yi Fan tidak akan menanggapi. Maka, ia pun hanya bisa membantu dengan memberinya ruang untuk posisi duduk yang lebih nyaman. Lu Han memandanganya lekat-lekat, muncul aura ke-bapak-an yang sangat kuat hingga membuat Wu Yi Fan harus mengalihkan pandangannya supaya air matanya tidak menetes.

“Tao,” Lay menepuk bahu Tao pelan, mencoba menenangkan. “Kau tidak harus berbuat seperti ini. Bagaimana pun kelihatannya, ingatlah, dia selalu menjagamu dalam segala keadaan. Merawatmu selama masa trainee. Orang tua keduamu.”

Pada titik itu, Tao terjatuh. Dengan lelehan air mata yang tak bisa lagi ia bendung. Mengingat atas semua yang telah lelaki pirang blasteran itu lakukan padanya selama lebih dari tiga tahun. Terekam kembali masa-masa sulit ketika dirinya kecil yang selalu merindukan keluarganya, dan pria itu, Wu Yi Fan, akan selalu ada untuk menghiburnya. Sekedar mengembalikan senyumnya yang sempat hilang. Serta membuat harinya kembali ceria.

“Maafkan aku…,” bisik Tao, lirih. Hatinya terasa teriris, perih.

Wu Yi Fan tetap tak bergeming. Ia mendengar jelas apa yang dikatakan Tao. Tapi, dengan sekuat tenaga untuk tidak menangis. Dia tak ingin kabar kembalinya diiringi dengan kepedihan dari Korea.

Sehun bangkit, menuju dapur dan kembali dengan membawa semangkuk besar berisi es batu. Lu Han, dengan amat hati-hati mengambil satu bongkah es dan melapisinya dengan plastik bening. Kemudian, “Kris, izinkan aku… .” Tangannya yang terampil mengusapkan es tadi tepat di pipi kiri Wu Yi Fan yang lebam. Wu Yi Fan tetap pada posisinya, namun ia tetap merasakan ketika pipinya yang panas terkena es yang dingin, sehingga ia hanya bisa memejamkan matanya. Membiarkan tangan lihai Lu Han mengobati luka pukulannya.

Dan tanpa disadarinya, mengingat suasana tegang di ruangan itu, air matanya perlahan menetes dari tiap ujung matanya. Kembali teringat semua kejadian yang telah ia lakukan bersama semuanya. Dalam setiap detik, selalu ada suka dan duka, sedih dan bahagia, sampai hari itu, perpisahan yang berat. Makin deras air matanya meleleh, hingga membuat Lu Han berhenti mengusap pipi kirinya.

Semua menunggu apa yang terjadi dalam degupan jantung yang sama-sama berfrekuensi cepat. Apa yang membuatnya menangis? Semua berasumsi bahwa Lu Han terlampau keras mengobatinya. Wu Yi Fan tetap memejamkan matanya. Membiarkan semua adegan hidupnya dalam dua tahun ini terus berputar dalam layar alam bawah sadarnya. Perlahan, sesenggukan muncul dari dalam tenggorokannya. Ia mulai merasa sulit untuk mengatur nafasnya. Dan tampak wajahnya mengekspresikan perasaan yang tertunda dalam benaknya.

Sampai kemudian, kedua matanya terbuka. Terlihatlah jelas badan beningnya yang semula putih menjadi kemerah-merahan. Matanya basah, sembab. Semuanya menanti, terus menanti, dalam diam yang mencekam. Wu Yi Fan memandang mereka satu persatu, meneliti pesan apa yang mereka coba sampaikan melalui tiap kedipan mata. Tanpa memberi suatu sinyal, ia bisa merasakan apa yang mereka semua rasakan. Sakit, yang amat sangat. Hingga akhirnya, Wu Yi Fan tersenyum sederhana dan berkata pelan, “aku mencintai kalian semua… .”

***

“Darkness in my eyes but light up in the sky” -Wu Yi Fan

Advertisements
0

Goodbye doesn’t always mean Gone

((Seluruh nama yang ada dalam cerita memang benar adanya, kenyataan yang ada juga benar adanya, penyampaian dan alur cerita hanya fiktif belaka. Perspective: Zi Tao EXO-M))

Aku terbangun. Bukan karena alarm handphone bodoh lagi, tapi kegaduhan dari luar kamar.

“Tao, bangunlah!” samar-samar suara Lu Han hyung, bersamaan dengan ketukan pintu lembut. “Bangunlah, cepat, tukang tidur! Buka pintunya!”

Aku bangkit, dengan malas. Dan berdiri untuk membukakan pintu, hanya untuk memastikan kalau Chen hyung tidak mendengkur keras lagi. Atau berbagi tempat tidur bersama Lu Han hyung.

Hyung, tidak bisakah kau tunggu sampai besok? Aku benar-benar lelah hari ini,” imbuhku setelah membuka kunci kamar–tunggu, siapa yang menguncinya? “Ayolah, aku ingin kembali tidur.”

“Tao, sadarlah! Kris sudah tidak ada!” Lu Han hyung mengguncang bahuku keras. “Dia menghilang!”

Hyung, kau ini bicara apa? Dia kan sedang tidur bersamaku di sana,” aku menunjuk tempat tidur Kris hyung. Siapa? Siapa yang aku tunjuk? Tidak ada.

Plakk!! Seseorang menamparku, cukup keras.

“Ya!” aku mengaduh, sakit.

“Tao, pergi kemana kau dan Kris tadi malam?” wajah Xiumin hyung mulai tampak jelas setelah menamparku tadi. “Aku sudah mencoba menghubunginya tapi selalu gagal. Kukira kau bersamanya beberapa jam yang lalu.” Xiumin hyung mengetuk-ketuk handphone nya dengan gelisah, bibir bawahnya digigitnya dan kedua alisnya bertautan khawatir.

Aku mulai sadar apa yang terjadi. Kris hyung hilang. Benarkah? Atau kah ini hanya lelucon Kris hyung saja? Dia bisa saja muncul seperti hantu ketika seluruh dorm telah ramai.

“Dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat dan pasti akan segera muncul….”

“TAO! Dia tidak sedang bermain. Dia kabur beberapa waktu lalu,” bentak Lu Han hyung.
Aku buru-buru mengatupkan mulutku. Aku tidak ingin melihat Lu Han hyung marah lagi setelah semua ini.

“Tao, beritahu kami apa yang kalian berdua lakukan beberapa waktu yang lalu,” Chen hyung, secara misterius, muncul di sampingku dengan muka teduh berikut linangan air mata, yang mana membenarkan diriku kalau mereka benar-benar serius saat ini.

Aku terduduk, mengingat kembali apa yang telah aku dan Kris hyung lakukan.

“Tao, kalau ada seseorang yang sepenuh hati mencintaimu dan dia harus meninggalkanmu karena sebuah alasan, apakah kau akan menerimanya?”

“Dia harus punya alasan yang benar-benar kuat.”

“… dan kau akan rela melepaskannya?”

“Mungkin. Entahlah, hyung. Mengatakannya tak semudah melakukannya.”

Aku segera bangkit. Meninggalkan wajah-wajah penasaran para hyung-ku–yang mulai tampak makin gelisah–dan kembali ke kamar. Kris hyung pernah bilang kalau dia menyimpan beberapa barang pribadi yang tidak pernah ia tunjukkan ke orang lain. Barang-barang itu berupa kumpulan surat yang ingin ia kirimkan ke keluarganya yang telah berpisah.

“Aku ingin suatu saat nanti bisa tinggal satu rumah bersama keluargaku yang utuh lagi. Terkadang aku mencoba membayangkan mereka lagi, tapi yang muncul justru wajah para member EXO-ku,” ungkapnya padaku, suatu hari.

Aku menemukan kotak pribadinya. Aku tahu ini privasi miliknya, tapi… mungkinkah… Kris hyung ingin kembali pada keluarganya dulu? Dan meninggalkan keluarga EXO-nya…? Tanganku tergerak atas dasar peduli dan penasaran membuka kotak itu dengan gemetar. Sekumpulan amplop dari yang sudah usang sampai yang terbaru tertata rapi di kotak itu. Hanya satu sebuah surat yang menarik perhatianku, sebuah surat hangat yang masih baru. Dengan gemetar, kubuka perlahan.

Surat pengunduran diri Kris hyung dari agensi… beserta tanda tangannya yang sudah disahkan…

Badanku lemas, darahku seolah berhenti mengalir. Apa… maksud… semua… ini?
Di dalam kotak terdapat satu surat lagi dengan amplop warna biru cerah berikut gambar seluruh member EXO khas tangan Kris hyung. Kubuka lagi, dengan degupan jantung dan rembesan keringat dingin.

Kris hyung menulis…

Untuk semua member EXO yang selalu kukasihi…
Di sini, aku menulis atas dasar cintaku pada kalian semua, kukatakan bahwa angka ganjil tidak selamanya berakhir buruk. Sebelas member bukanlah hal yang begitu buruk. Kehilangan satu member bukanlah hal yang bisa menghancurkan kalian, orang-orang hebat dan berbakat.
Sebagai seorang leader di EXO-M, aku sangat bersyukur bisa mendapat kepercayaan kalian sebagai ayah kalian. Aku sangat bersyukur bisa mengenal kalian semua, aku sangat bersyukur diberi waktu dan umur bersama kalian, aku sangat bersyukur atas semua kebahagiaan yang telah kalian berikan padaku.
Namun, tidak selamanya kehidupan bisa semulus yang kita harapkan, bukan? Pasti ada naik dan turun yang selalu menghiasinya, supaya kehidupan bisa semakin indah. Karena itu, atas namaku, Wu Yi Fan, aku harus dengan berat hati melepaskan kalian. Aku sungguh meminta maaf pada semuanya, karena hanya dengan ini arti dari hal-hal gila yang kulakukan dua minggu terakhir ini bisa terjawab. Atas semua yang telah kita lalui bersama, dan selagi kita punya waktu, gunakan dengan baik dan bahagia, kan?
Aku mencintai kalian semua. Untuk itu, aku akan selalu berpesan pada kalian; jagalah kekeluargaan kalian. Xiumin hyung dan Lu Han hyung, jaga adik-adik kita semua, kalian akan jadi ayah dan ibu yang baik. Lay, rajinlah berlatih dan istirahat yang cukup. Chen, jangan lupa untuk terus latihan vokal. Dan untuk dongsaeng-ku sayang, Tao, dewasalah dan jangan mudah menangis. Juga untuk Su Ho dan seluruh keluarga EXO-K, kalian harus terus tabah, Su Ho terutama, untuk menjadi leader bagi 10 member lain.
Akhir kalimat, kalian bisa dengan bebas memanggilku Wu Yi Fan tanpa sebutan ‘Kris’. Maafkan aku karena tidak mengatakannya secara langsung, aku hanya tidak ingin menghancurkan perasaan kita satu sama lain. Karena bagiku, kalian semua, lebih berarti dari sekedar keluarga dari sebuah agensi. Kalian takdirku, keluargaku, EXO-ku…
Semoga selamanya akan menjadi keluarga untukku. Dan semoga EXO akan terus sukses dengan 11 member yang hebat…

Salam cinta
Wu Yi Fan

Aku menangis, keras dan pilu. Wajahku seketika menjadi pias. Jadi, ini yang dia maksudkan tadi. Jadi, ini yang dia pilih. Jadi, ini yang menjadi jalannya. Wu Yi Fan, semua orang mengkhawatirkanmu. Wu Yi Fan bodoh, dimana kau?!

“Tao apa yang…?” suara Lu Han hyung dari belakang.

Aku merasa pusing, sangat pusing.

“Wu Yi Fan, dia… Wu Yi Fan, dia… dia… .”

“Apa apa dengannya?!” Lu Han hyung panik.

Aku terjatuh.

“Tao!”

Setelah itu semuanya benar-benar gelap.

Wu Yi Fan, jika kau ingin terbang. Terbanglah, selama kau bahagia dengan itu…

image

0

Fate Destin Accident

Fate
Destin
Or anything else
Basically have a thousand definitions
But what about accident?
Does it belong to fate or destiny?

I do know you. I met you. Accidentally. Wait, does it an accident? We know each other. And everything that happens after all. Even we have the same feeling. Does it still an accident? No. I don’t think so.
Somehow we were meant to, accidentally.

0

Midnight Merana

Jam selalu berlari
Tanpa henti
Meninggalkanku tak berarti
Dalam balutan malam suci

Hujan meresonansikan rindu
Kepada sosok dalam kalbu
Tempat biasa mengadu
Dulu…
Ketika masih ada waktu

Hening di mana-mana
Mengingatkan kenangan bersama
Kenangan semanis gula
Yang selamanya akan bersisa

Ah, apa guna aku bersedih
Takkan ada yang memberi kasih
Hanya ada perih
Dan pedih

Di malam yang suci ini…

Selamat ber-midnight ria.

0

Petuah Pagi

Sedih? Galau?
Iya. Banget.

Tiap hari ini?
Like every single day.

Kita semua sedih. Kita semua galau. Kenapa? Karena kita manusia, simpel, bukan?
Iya, tapi galau-nya ga ilang-ilang.

Umm, punya al qur’an ga?
Punyalah.

Nah, monggo dibuka mushaf-nya Surat ke-9.
Surat ke-9 itu apa?

Apa hayo? At-Taubah.
.
.
.
Oke, udah.

Buka ayat 40, deh.
Sampuun.

Monggo dibaca ayatnya.
Anu, aku ga lancar baca huruf Arab.

Yaudah artinya aja.

image

attaubah

Nah, tadi gimana bunyinya? “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita” Nah, jadi kesimpulannya adalah…
Kalo kita sedih atau galau kita harus selalu inget kalo Allah ada untuk kita?

Exactly! Sebagai manusia, sudah sunatullah kalo kita sering bersedih hati, galau di sana di sini, tapi inget, kita manusia punya pencipta, yang akan selalu ada untuk kita. Kita punya Allah, yang akan selalu memberi kita solusi terbaik untuk kita sendiri. Satu-satunya tempat kita untuk mengadu dan bergantung. Ingat Allah, ingat Allah, ingat Allah.

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan dan sifat pengecut dan bakhil, dan dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan orang”
Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

0

“hanarous”

Halo hai hola!! Selamat datang di blog lama tapi baru (?) Oh iya, gini, aku mau ngasih tau *pembaca bubar* *orang gaada yang baca* *garuk garuk aspal* kalo kemarin aku ganti url blog *trus kenapa*. Gini gini, temen aku ada yang nanyain “han, blog-mu kok udah gaada?” Dan seketika aku nangis *lebay* *engga deng* karena ada satu pembaca tetap blogku *krik abis*. Trus aku kasih tau ke dia “somebodynamedhana-nya ganti hanarous” trus dia nanya “apa itu? hanakurus?” *jungkir balik pake idung* *engga deng, gabisa sih*
Nah, kalo kalian juga kepo apa itu hanarous, *gaada yang nanya* aku mau kasih tau.
hanarous itu dari kata Hana (nama aku sendiri) sama rous itu sebenarnya dari kata humorous. Tau kan? Tau dong, tau aja ya *maksa*. Humorous itu character trait, artinya lucu. Trus iseng iseng deh aku ganti humo-nya jadi hana. Udah sih gitu doang.Gaada maksud lain. Jadi, kalian bisa mengartikan kalo aku itu *cough* *cough* l u c u *cough* *cough* hahaha ngga deng, bercanda doang.
Oke, dadah. Mau les kimia dulu *gaada yang nanya* *makan tembok* *eh engga deng* hahaha.

0

Sebuah Puisi

Angin malam berembus
Membelai pipi dengan lembut
Ikut merasakan apa yang kurasakan
Dan apa yang tidak kurasakan

Bintang-bintang menemani
Seperti seharusnya seorang teman
Berkilauan seperti permata
Yang bertaburan abstrak di angkasa

Langit mulai melepas jubahnya
Menyanyikan sebuah lullaby
Untuk mereka yang saling merindu
Supaya lekas menarik selimut

Apalah arti malam yang indah ini
Tanpa seseorang di samping
Sebagai pelipur lara
Atau penghibur hati

Ratusan kilometer kita berdiri
Semoga rindu ini terus terjaga
Sampai kelak kita bertemu
Dan semoga selalu dalam lindungan-Nya
.
.
.
.
.
Pangeran manisku.