0

3

Tiga,
Tiga,
Tiga,

Seharusnya tiga adalah angka kita
Seharusnya tiga adalah tahun kita
Seharusnya tiga adalah kita

Tapi tiga…
Tidak akan pernah menjadi angka kita
Tidak akan pernah menjadi tahun kita
Tidak akan pernah menjadi kita

Kita berdua tahu
Bahwa kita tidak akan sejauh ini
Bahwa kita tidak akan mencapai saat ini
Bahwa kita tidak akan pernah bisa mendapat tiga

Tapi bayangmu masih menunggu
Dan tidak menyerah
Tepat di ujung sana
Di sebuah pertigaan…

0

Berkah Bokser

*nyapu wordpress yang penuh debu dan usang* *hiks*

Saya waspada kalau-kalau blog ini kelak akan dihapuskan karena sudah berlumut *hiks*

Dan saya waspada kalau-klau blog ini benar-benar akan dihapuskan karena judul post-nya yang ambigu *hiks*

.

.

.

Langsung aja yah, aku mau cerita. Tapi sebelumnya saya hendak meluruskan pendapat kita tentang judulnya supaya kelak tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita *ngomong opo*

Bokser di ini itu bukan celana pendek atau hot pants atau apalah. Tapi singkatan dari Boker Separo *opo meneh iku*. Itu nama resmi kelasku saat ini heuheu *nyanyi mars boker separo* *eh ngga punya mars deng* *badumtss*

Jadi, yang aku maksud Berkah Bokser di sini adalah manfaatnya aku ikut bagian dari 33 pelajar imut di sekolah. Jadi gini, sekarang kan aku udah (secara resmi) naik kelas ke kelas sebelas! AYE. Intinya aku udah naik satu tingkatan, dan di kelas sebelas ini adalah saatnya bagi kita untuk nakal-nakalnya menginjak umur 17 *efek suara anak-anak YEAY*

Dan di bokser, orang pertama yang memulai dirinya sebagai WNI adalah Dewik! *efek YEAY lagi* *dewik muncul* Senin tanggal 1 September kemarin dia udah tujubelas dan membuat syukuran di rumahnya. Alhasil seantero bokser dateng dan makan-makan ikut meramaikan.

Selang tiga hari setelah Dewik, Dhian pun nyusul *efek YEAY volume max*. Dhian pun juga bikin syukuran di Mie Surabaya. Kita semua diundang buat makan-makan ikut meramaikan acara.

.

.

.

Sampai di sini ada yang sudah ngeh sama maksud “berkah” di judulnya? HEHEHEHE

Berkahnya, selain di lahir dan batin, berkahnya tuh juga ada di saku kantongan dan/atau tas kita. Lebih tepatnya di benda yang bisa dilipet dan kalo kosong kadang mirip kopyah heuheu. Dompet!

.

.

*nyengar nyengir*

.

.

Semoga keberkahan ini semakin bertambah berkah ketika kelak kalender menunjukkan tanggal 28 September *nyeret Monda* dan disusul tanggal 2 Oktober *njawil Pipah* yang akan dilanjutkan di bulan November oleh tiga sejoli ini: Yudha, Diva, Fahri.

Semoga makin berkah, semuanya!

HEHEHE

avatar

(ini waktu di rumahnya Dewik, fotonya ngga sengaja nemu di ask.fm nya safril dan aku copy ehehe)

0

Bye.


“I don’t even know what’s your relationship stands for anymore,” she started to talk, keep staring at him.
He didn’t move either, without saying any words. They both exchanged glances. A mysterius glace, actually.
“When we were together, I felt like I wasn’t who I should be,” she continued, reminiscing all the moments they’d spent together. “Even though we were in relationship, I felt like I’ve barely known you.”
“What are you talking about?” He asked, a bit surprisingly.
“Look, I’ve been knowing you since last year, we did spend times together,” she explained with a visual gesture. “But I’ve never known your real name. I’ve barely known your name yesterday. Isn’t that ironic?” She felt like her hearts broke into pieces, remembering how pathetic is her story. “And I’m pretty sure you didn’t know my real name, neither.”
He didn’t answer, trying to stay strong, but his face couldn’t lie.
“I’m so sorry, but it doesn’t work anymore,” she hugged him thightly, a farewell hug. “I have to go now, I wish this wouldn’t bother our friendship,” she said as she hugged him. “Good bye.” She let herself go.
He didn’t even move at all, seeing his girl walked away without a single word. He felt like he was too afraid to answer. So this is what’s happening. The end of their relationship.

.
.
.
((BUKAN CURHAT, BENERAN!!!))

0

KOMPAS 13/14

HALO SEMUANYAAH LAMA NGGA BIKIN POST KANGEN<3 *padahal kemarin tanggal 11 udah post* *itu simpenan di draft kok*

Senengnya UKK-nya udah selesai, tapi di post ini ngga akan bahas UKK kok karena banyak dukanya daripada sukanya (kayaknya isinya duka silang indah semua) (loh, curhat kan). Jadi, hari ini aku mau berbagi cerita *bukan cinta* tentang KOMPAS 2013/2014 //AYE//

Tapi, pertama-tama mari kita ulas dulu apa itu KOMPAS. KOMPAS itu singkatan dari Kompetisi Pramuka Smansa (bener ngga sih?). Jadi acara ini semacam event yang diselenggarain pramuka tiap akhir tahun kelas X. Isi acaranya banyak banget, ada lomba, pemilihan Kamajaya-Kamaratih, malam api unggun, pokoknya isinya seru-seruan deh.

Daripada kepo, yuk cerita dari awal.

KOMPAS-nya dimulai jam tiga (kalo ngga salah sih) hari Sabtu pas hari terakhir ujian. Jadi ya, rada gembredeg mberesin barang-barang yang bakal dibawa. Apalagi hari Sabtu ini aku pulangnya rada siangan gara-gara harus kumpul bahas lintas minat sama waka kurikulum (widih sok penting banget ya urusannya sama wakur hehe)

Habis upacara pembukaan, langsung sholat Asar kan trus jadwalnya ada lomba puisi plus geguritan, seleksi Kamajaya-Kamaratih, pioneering, sama wawasan kebangsaan. Berhubung aku ngga ikut lomba jam ini akhirnya aku pun tidur latihan formasi buat pensi nanti malem bareng temen-temen. Walaupun namanya latihan formasi, tetep aja akhirnya ngakak ngekek sambil ngemil-ngemil yang akhirnya berlanjut tidur sholat Maghrib.

Oh iya, belum cerita soal kamarnya. Jadi, Manggala Bokser tidurnya di kelas bawah (lupa kelas berapa hehe), kalo yang Kusuma di kelas XII IPA 5 di lantai atas. Karena berbeda lantai jadi kalo mau ketemu susah (ketemu buat apa) (buat bahas lomba lah).

Habis sholat Maghrib bareng-bareng bikin bunderan kita semua makan malem (akhirnya). Dan ternyata aku kelupaan bawa bekal, akhirnya aku pun ndusel-ndusel ke Hafizha yang bawa porsi makannya (kelihatannya) kebanyakan. Makan deh bareng Hafizha, muehehe. Habis makan tiba-tiba keinget kalo jam setengah tujuh aku ada jadwal lomba Mosifet (morse semaphore estafet). Cus ke lapangan tengah.

Yang ikut lomba dari tiap sangga per kelas ada tiga orang. Aku, terpilih jadi salah satu yang ikut, bareng Resti sama Jupri. Aku sama Resti cuma bisa semaphore sama morse garis titik, itu pun ngga lancar sama sekali. Di lain sisi, Jupri blas ngga bisa apa-apa. Jadi kita hanya bisa menciut tanpa asa habis tau lawannya anak Pasprama semua *DUAR* *backsound petir menyambar-menyambar*

Habis lomba, harapan kita semakin sirna setelah tau kalo kata awal sama kata yang dijawab beda jauh. Yang awalnya BLOKADE jadi GFOKAD, dan dijawab… ALMASENI *apa itu almaseni?* *almamater mungkin* *tanyakan pada Jupri yang menjawab* Dan akhirnya kita pesimis menang, optimis kalah.

Tentang lomba mosifet biarlah berlalu karena habis itu ada upacara api unggun di lapangan parkir sekitar jam delapanan. Asiiik. Habis upacara api unggun langsung cus ke aula buat pensi tiap kelas. Akhirnya bisa seruangan sama kamu duduk bareng temen-temen seangkatan. Habis Bokser tampil nari cublak cublak suweng rasa kantuk mulai menggrayapi semua makhluk di aula. Dan… (rada curhat dikit ngga papa ya)… kelasmu maju pensinya rada akhiran, and you stood there right where I did. Senyam-senyum gitu. Ciee yang bikin ngga ngantuk lagi, iyalah, jidatmu tuh silau memantulkan sinar lampu depan pas kena mata. //uu\\

Pensi selesai jam setengah dua belas yang seharusnya selesai jam sebelas. LANGSUNG BOBOK. Temen-temen lain ada yang masih makan, masih ngobrol, sementara manusia macam aku dan Dewik ngga betah gituan jam segini dan langsung molor.

Paginya bangun jam setengah lima, oemji helloo badan uwek rasanya puegel ngga karuan remuk redam menusuk tulang *habis tidur alay nya ikut bangun* *maafin yak*. Selesai Subuhan cus ke lapangan depan mau senam, sementara yang ikut lomba masak ke tempat parkir. Dan…. (curhat lagi boleh kan) (curhat mulu deh) (maafin) ….kamu ikut senam sama temen-temenmu, di belakang sana biar ngga diliatin, padahal aku merhatiin (ecie merhatiin) (merhatiin gerakan senamnya, kok bukan orangnya).

Pas udah selesai senam kan bau capek, untungnya yang lomba masak udah selesai bikin fuyung hay plus sop jamur brokoli yang rasanya lebih dari dua jempol. Dypi, Pipah, ama Jaki ini emang udah pantes jadi ibuk-ibuk kali ya. Jadwal selanjutnya ada seleksi Kamajaya-Kamaratih yang tertutup jadi kita ngga bisa liat, ya udah deh di kelas bercengkerama bareng temen-temen.

Asik gitu deh rasanya bisa kumpul melingkar di tengahnya ada ratusan bungkus cemilan, sharing-sharing cerita dari yang ngga penting sampe yang paling ngga penting. Dan sedih rasanya kalo inget kelas sebelas nanti aku bakalan ngga sekelas lagi sama orang-orang ini gara-gara pilihan lintas minat yang berbeda…… ah.

Habis itu kita nyemangatin Diva yang lolos Kamaratih di aula. Pasangannya Diva sih aslinya Fahri, tapi mendadak Fahri ngga bisa ikut KOMPAS gara-gara sakit tifus. Fahri emang sering gitu, sakitnya suka mendadak, cepet sembuh Papa Tama, istrinya Mami Tami hihihi. Jadi penggantinya Fahri ya temen sejolinya, Dito.

Dari aula kita balik ke kelas dan tiduur istirahat bentar. Pas banget mata udah merem suruh beres-beres sebelum adzan Dzuhur. Langsung deh gembredeg lagi ganti baju, beresin barang-barang, ngembaliin meja kursi, dan nyapu kelas. Cus sholat Dzuhur dan ngemil di luar kelas ndeprok kayak ngga punya rumah.

Upacara penutupan plus pengumuman pemenang lomba. Pas mba Raisa mbacain lomba mosifet, aku udah geli inget lomba semalem. Blokade, Gfokad, Almaseni. Dan ternyata, apa yang dibacain mba Raisa ternyata, “juara 3 lomba mosifet kusuma jatuh di kelas SEPULUH IPA 2” and I was like “WHHUUTT SERIOUSLYY??” Dan rupanya ngga cuma aku yang ngira aku salah denger. Bener! Mba Raisa bilang kelas IPA 2. NGAKAK BENERAN ALMASENI BISA MENANG. NGAKAK NGAKAK NGAKAK. Beneran mukjizat deh bisa menang, mengingat lawannya ada yang Pasprama semua. Mengingat ada lawan yang juara morse tingkat provinsi. Dan ternyata orang-orang hebat itu kalah sama 3 orang plonga plongo ngga tau apa-apa soal morse, semaphore, dan kode-kode lainnya. Tapi kalo kodemu kita paham, kok. *apeeuu*

Bokser pun meraih beberapa juara di KOMPAS ini dari yang masak manggala-kusuma, hasta karya manggala, halang rintang manggala, juara 2 kamaratih, siswa tergiat selama setahun, puisi manggala-kusuma, sampe yang paling bikin aku ngga habis pikir; mosifet kusuma-manggala.

KOMPAS pun selesai dan kita semua seneng. Seneng. Seneng. Akhirnya setelah hampir setahun barengan, baru kali ini ada waktu luang buat ngobrol-ngobrol lebih deket, intimate time kalo menurut aku, cerita-cerita, ngakak-ngakak, ngemil-ngemil, semuanya deh yang dua hari satu malam ini rasain bareng. Dan, semoga selamanya masih punya waktu bareng lagi. Meskipun bakal beda tempat belajar.

0

Sebuah Balada

Kalo aku bilang aku bukan siapa-siapamu, kamu  bakal gimana?
Mengacuhkanku? Makin penasaran? Atau yang lainnya?

Aku juga ga yakin. Sama sekali. Kamu susah ditebak. Misterius, tapi sangat manis
Karena sejujurnya, aku suka kamu
Selama ini
Tapi kamu ga kenal aku
Sama sekali

Aku sangat mengagumimu
Semua yang kamu miliki, mengagumkan
Dan sudah sekian lamanya kuharap kita bisa saling mengenal
Walau hanya bertegur sapa

Dan sampai saat ini, aku (masih) memendamnya
Hingga kurasakan hatiku merintih sakit
Aku ingin. Untuk bisa. Setidaknya. Mengenalmu. Lebih dekat.
Apakah harus sesulit ini?
Apakah harus selama ini?
Apa lagi yang harus kutunggu?

Dapatkah kau merasakan apa yang kurasakan, Sayang?
Semuanya, yang dialami semua pengagum rahasia di seluruh dunia

Sampai kemudian aku menyadarinya
Ini hanya urusan waktu
“Semua ada waktunya sendiri-sendiri,” begitu kata orang-orang bijak
Apakah ini juga karena waktu? Mungkin.

Di akhir, aku hanya ingin kamu tau dan percaya
Jikalau kamu masih terus bertanya siapa sebenarnya aku
Biarlah waktu yang menjawab
Karena sejatinya aku belum siap dan belum punya nyali untuk membalasnya


HUO HANA GALAU.

Engga galau kok, cuma mau nyampein perasaan pas m a s i h jadi pengagum rahasia HEU

Pas masih, berarti pernah dong.

Iya, pernah. Ya pernahlaah.

0

Farewell, Friend (Pt. 2)

((Seluruh nama yang ada dalam cerita memang benar adanya, penyampaian dan alur cerita hanya fiktif belaka. Perspective: Orang ketiga))

Dia sudah sampai. Di tanah kelahirannya. Negara yang sudah lama ia tinggalkan, untuk menjalani kehidupannya yang juga baru saja ia tinggalkan pula. Tapi ada yang salah dengan tempat ini. Tempat ini seperti asing baginya. Semuanya terasa tak sama lagi. Di mana dia sekarang? Di China. Seperti ini kah China-nya? Karena mungkin raga dan hatinya masih berada di tempat yang berbeda.

Lelaki tinggi itu mendesah, memposisikan sun glasses-nya dengan benar dan menyembunyikan kepalanya dalam hoodie hitamnya. Bagaimana pun ia harus benar-benar tampak tak dikenali orang-orang di sekitarnya. Karena perginya dia dari Korea bukan merupakan acara-acara resmi dari pihak agensi, tapi merupakan pelarian pribadi. Untuk itu, selama tak ada yang berteriak histeris menyebut namanya di tengah keramaian, ia akan baik-baik saja sampai pulang ke rumahnya.

Downtown. Bukan tempat yang baru baginya, namun tempat yang berbahaya untuknya saat ini. Ia terus menunduk dan tetap berjalan cepat. Menerobos ratusan orang yang lalu lalang di kanan dan kirinya. Langkahnya yang panjang terhenti, tatkala dari dalam sebuah toko berlabel Hermes terlantun lembut suara yang sangat ia kenal. Suara yang beberapa jam lalu masih dapat ia dengarkan secara langsung. Suara yang masih sangat hangat di telinganya.

“Baekhyun-ah…,” desisnya. Terulang kembali semua memori yang telah ia coba tutup rapat-rapat.  Terlintas dengan jelas wajah manja Baekhyun, yang kemudian disusul Chanyeol, Suho, dan… Tao. Tangisnya pecah saat itu juga, pelan dan menghanyutkan. Ia terus berdiri di pintu depan toko pakaian dari Prancis tadi dengan sesunggukan pelan. Tak ada yang memperhatikan, tak ada yang mengetahui, dan tak ada yang ikut merasakan. Semuanya, yang saat ini ia rasakan.

Tangannya mengepal keras, mencoba untuk menguatkan hatinya yang mulai mudah rapuh. Ia mencoba berhenti bernafas, sekedar untuk menghilangkan sesunggukannya. Bagaimana pun ia sudah bertekad, ia sudah bukan anak-anak lagi. Dia sudah dewasa. Dia harus bisa mengendalikan emosinya. Namun, apa dayanya? Dewasa atau bukan, dia tetaplah manusia. Yang masih mendambakan teman, dan kasih sayangnya. Juga kenangan bersama yang masih terus terjebak dalam kepalanya.

Kakinya tergerak untuk terus berjalan, melewati beberapa zebra cross. Ia telah menghubungi adiknya untuk segera menjemputnya. Dan tempat mereka akan bertemu masih satu setengah mil lagi. Cukup jauh memang, tapi dia menolak untuk menggunakan transportasi umum. Ia lebih suka berjalan. Membiarkan dirinya merasakan menjadi dirinya yang dulu. Dirinya yang gemar berlari dan berjalan. Dan mulai menghilangkan dirinya yang selalu menggunakan kendaraan mewah milik agensi.

Namun, saat kakinya tepat berpijak pada di depan sebuah toko elektronik, ia berhenti kembali. Dalam kaca luar toko, salah satu televisi LG yang dipamerkan tengah menayangkan berita mengenai single-nya, Overdose. Kontan ia menoleh, dapat dilihat dengan jelas olehnya, Suho, dalam balutan jas putih nan elegan bersama semua member, termasuk dirinya, di MNet tiga hari yang lalu.

Kemudian, seolah waktu kembali berjalan mundur. Membawanya kembali saat dirinya masih berada di bandara di Incheon. Saat semua, dua belas pria berbagi air mata bersama, untuk terakhir kalinya dalam hidupnya. Ia merasa jatuh, ketika mengingat kembali betapa rapuhnya dia. Mengingat betapa lemahnya dia di hadapan teman-temannya. Betapa buruk peragainya. Betapa ia ingin sekali untuk menghancurkan dirinya sendiri.

Ia kembali rapuh dan jatuh, hanyut dalam pilunya tangisan. Itulah momen terakhir kalinya berada di atas panggung. Itulah momen terakhir kalinya tertawa dan terharu di atas panggung bersama member lainnya. Itulah momen terakhir kalinya dikenali oleh publik. Yang mana ia sangat yakin, dalam beberapa hari lagi, akan terbit beberapa berita  di berbagai media dengan namanya sebagai headline dan bercetak tebal. Setelah itu, namanya akan hilang begitu saja. Tenggelam dan terkubur dalam-dalam hingga tinggal menjadi sebuah nama yang biasa. Sebuah kenangan yang terlupakan. Sampai mungkin akan didengarnya sebuah pertanyaan, “Siapa itu Wu Yi Fan?”

***

0

Farewell, Friend

((Seluruh nama yang ada dalam cerita memang benar adanya, penyampaian dan alur cerita hanya fiktif belaka. Perspective: Orang ketiga))

“Apa sih yang kamu pikirkan?” bentak Xiumin. Wajahnya mulai memerah padam karena bercampurnya marah, sedih, dan kecewa pada leader-nya. “Kamu kira dengan keputusan bodohmu kita semua bisa menerimanya? Tidak kah kau bisa berpikir lebih jernih?”

Di lain pihak, pria jangkung itu hanya tertunduk tak berdaya. Ia tengah berada dalam titik dimana ia harus memeluk erat atau menampar keras temannya itu. Dengan segenap hati, ia sangat menyayangi semua orang yang kini berdiri di hadapannya, namun di sisi lain, ia tak bisa berlama-lama di tempat itu. Tempat di mana ia menghabiskan dua tahun penuh bersama keluarga barunya.

Maka, dengan menghela nafas panjang ia terus melangkah. Dengan tanpa sepatah kata melewati celah antara beberapa lelaki yang menunggu jawabannya. Ia tetap akan pergi hari itu juga. Tekadnya sudah bulat.

“Wu Yi Fan!” ulang Xiumin. Kini air matanya telah menerobos batas pelupuk matanya, mengalir melewati pipinya. “Jawab pertanyaanku!”

Tapi sang pria jangkung berambut pirang itu tetap tak acuh. Diambilnya koper hitam miliknya dan bersiap untuk bergegas keluar dari kerumunan yang penuh pilu. Namun, tak disangka sebuah pukulan hebat menghantam tulang pipinya. Tak ulung, raganya yang tinggi menjulang roboh. Jemarinya yang lentik menggenggam erat pipi kirinya yang mulai membiru dengan menahan perih. Ia ingin sekali membalas siapapun yang menyakitinya di tengah suasana hatinya yang kacau, namun hasratnya ia urungkan atas dasar cinta di antara mereka. Apapun yang sedang mereka pikirkan, ia mencoba untuk bisa memahaminya. Termasuk memahami kebencian tiada tara dari tiap individu.

Tao, pelaku penampar pria bernama Wu Yi Fan tadi, berdiri tepat di depannya. Dengan mimik merasa bersalah ditambah kebencian yang kuat, ia tatap Wu Yi Fan dalam-dalam. Mencoba mengartikan makna tersirat dalam tiap senti anggota tubuh wajahnya. Namun gagal. Wu Yi Fan terlalu sulit untuk ditebak. Ditambah dia tidak memiliki bakat untuk membaca raut wajah.

“Tao, tenangkan dirimu!” salah satu yang bernama Lu Han menghampiri Wu Yi Fan yang masih terduduk. Diikuti teman sejolinya, Sehun, juga Chen.

Lu Han mencoba untuk berinteraksi dengan Wu Yi Fan dengan cara yang lain. Apapun yang akan dia katakan, ia yakin Wu Yi Fan tidak akan menanggapi. Maka, ia pun hanya bisa membantu dengan memberinya ruang untuk posisi duduk yang lebih nyaman. Lu Han memandanganya lekat-lekat, muncul aura ke-bapak-an yang sangat kuat hingga membuat Wu Yi Fan harus mengalihkan pandangannya supaya air matanya tidak menetes.

“Tao,” Lay menepuk bahu Tao pelan, mencoba menenangkan. “Kau tidak harus berbuat seperti ini. Bagaimana pun kelihatannya, ingatlah, dia selalu menjagamu dalam segala keadaan. Merawatmu selama masa trainee. Orang tua keduamu.”

Pada titik itu, Tao terjatuh. Dengan lelehan air mata yang tak bisa lagi ia bendung. Mengingat atas semua yang telah lelaki pirang blasteran itu lakukan padanya selama lebih dari tiga tahun. Terekam kembali masa-masa sulit ketika dirinya kecil yang selalu merindukan keluarganya, dan pria itu, Wu Yi Fan, akan selalu ada untuk menghiburnya. Sekedar mengembalikan senyumnya yang sempat hilang. Serta membuat harinya kembali ceria.

“Maafkan aku…,” bisik Tao, lirih. Hatinya terasa teriris, perih.

Wu Yi Fan tetap tak bergeming. Ia mendengar jelas apa yang dikatakan Tao. Tapi, dengan sekuat tenaga untuk tidak menangis. Dia tak ingin kabar kembalinya diiringi dengan kepedihan dari Korea.

Sehun bangkit, menuju dapur dan kembali dengan membawa semangkuk besar berisi es batu. Lu Han, dengan amat hati-hati mengambil satu bongkah es dan melapisinya dengan plastik bening. Kemudian, “Kris, izinkan aku… .” Tangannya yang terampil mengusapkan es tadi tepat di pipi kiri Wu Yi Fan yang lebam. Wu Yi Fan tetap pada posisinya, namun ia tetap merasakan ketika pipinya yang panas terkena es yang dingin, sehingga ia hanya bisa memejamkan matanya. Membiarkan tangan lihai Lu Han mengobati luka pukulannya.

Dan tanpa disadarinya, mengingat suasana tegang di ruangan itu, air matanya perlahan menetes dari tiap ujung matanya. Kembali teringat semua kejadian yang telah ia lakukan bersama semuanya. Dalam setiap detik, selalu ada suka dan duka, sedih dan bahagia, sampai hari itu, perpisahan yang berat. Makin deras air matanya meleleh, hingga membuat Lu Han berhenti mengusap pipi kirinya.

Semua menunggu apa yang terjadi dalam degupan jantung yang sama-sama berfrekuensi cepat. Apa yang membuatnya menangis? Semua berasumsi bahwa Lu Han terlampau keras mengobatinya. Wu Yi Fan tetap memejamkan matanya. Membiarkan semua adegan hidupnya dalam dua tahun ini terus berputar dalam layar alam bawah sadarnya. Perlahan, sesenggukan muncul dari dalam tenggorokannya. Ia mulai merasa sulit untuk mengatur nafasnya. Dan tampak wajahnya mengekspresikan perasaan yang tertunda dalam benaknya.

Sampai kemudian, kedua matanya terbuka. Terlihatlah jelas badan beningnya yang semula putih menjadi kemerah-merahan. Matanya basah, sembab. Semuanya menanti, terus menanti, dalam diam yang mencekam. Wu Yi Fan memandang mereka satu persatu, meneliti pesan apa yang mereka coba sampaikan melalui tiap kedipan mata. Tanpa memberi suatu sinyal, ia bisa merasakan apa yang mereka semua rasakan. Sakit, yang amat sangat. Hingga akhirnya, Wu Yi Fan tersenyum sederhana dan berkata pelan, “aku mencintai kalian semua… .”

***

“Darkness in my eyes but light up in the sky” -Wu Yi Fan