Farewell, Friend

((Seluruh nama yang ada dalam cerita memang benar adanya, penyampaian dan alur cerita hanya fiktif belaka. Perspective: Orang ketiga))

“Apa sih yang kamu pikirkan?” bentak Xiumin. Wajahnya mulai memerah padam karena bercampurnya marah, sedih, dan kecewa pada leader-nya. “Kamu kira dengan keputusan bodohmu kita semua bisa menerimanya? Tidak kah kau bisa berpikir lebih jernih?”

Di lain pihak, pria jangkung itu hanya tertunduk tak berdaya. Ia tengah berada dalam titik dimana ia harus memeluk erat atau menampar keras temannya itu. Dengan segenap hati, ia sangat menyayangi semua orang yang kini berdiri di hadapannya, namun di sisi lain, ia tak bisa berlama-lama di tempat itu. Tempat di mana ia menghabiskan dua tahun penuh bersama keluarga barunya.

Maka, dengan menghela nafas panjang ia terus melangkah. Dengan tanpa sepatah kata melewati celah antara beberapa lelaki yang menunggu jawabannya. Ia tetap akan pergi hari itu juga. Tekadnya sudah bulat.

“Wu Yi Fan!” ulang Xiumin. Kini air matanya telah menerobos batas pelupuk matanya, mengalir melewati pipinya. “Jawab pertanyaanku!”

Tapi sang pria jangkung berambut pirang itu tetap tak acuh. Diambilnya koper hitam miliknya dan bersiap untuk bergegas keluar dari kerumunan yang penuh pilu. Namun, tak disangka sebuah pukulan hebat menghantam tulang pipinya. Tak ulung, raganya yang tinggi menjulang roboh. Jemarinya yang lentik menggenggam erat pipi kirinya yang mulai membiru dengan menahan perih. Ia ingin sekali membalas siapapun yang menyakitinya di tengah suasana hatinya yang kacau, namun hasratnya ia urungkan atas dasar cinta di antara mereka. Apapun yang sedang mereka pikirkan, ia mencoba untuk bisa memahaminya. Termasuk memahami kebencian tiada tara dari tiap individu.

Tao, pelaku penampar pria bernama Wu Yi Fan tadi, berdiri tepat di depannya. Dengan mimik merasa bersalah ditambah kebencian yang kuat, ia tatap Wu Yi Fan dalam-dalam. Mencoba mengartikan makna tersirat dalam tiap senti anggota tubuh wajahnya. Namun gagal. Wu Yi Fan terlalu sulit untuk ditebak. Ditambah dia tidak memiliki bakat untuk membaca raut wajah.

“Tao, tenangkan dirimu!” salah satu yang bernama Lu Han menghampiri Wu Yi Fan yang masih terduduk. Diikuti teman sejolinya, Sehun, juga Chen.

Lu Han mencoba untuk berinteraksi dengan Wu Yi Fan dengan cara yang lain. Apapun yang akan dia katakan, ia yakin Wu Yi Fan tidak akan menanggapi. Maka, ia pun hanya bisa membantu dengan memberinya ruang untuk posisi duduk yang lebih nyaman. Lu Han memandanganya lekat-lekat, muncul aura ke-bapak-an yang sangat kuat hingga membuat Wu Yi Fan harus mengalihkan pandangannya supaya air matanya tidak menetes.

“Tao,” Lay menepuk bahu Tao pelan, mencoba menenangkan. “Kau tidak harus berbuat seperti ini. Bagaimana pun kelihatannya, ingatlah, dia selalu menjagamu dalam segala keadaan. Merawatmu selama masa trainee. Orang tua keduamu.”

Pada titik itu, Tao terjatuh. Dengan lelehan air mata yang tak bisa lagi ia bendung. Mengingat atas semua yang telah lelaki pirang blasteran itu lakukan padanya selama lebih dari tiga tahun. Terekam kembali masa-masa sulit ketika dirinya kecil yang selalu merindukan keluarganya, dan pria itu, Wu Yi Fan, akan selalu ada untuk menghiburnya. Sekedar mengembalikan senyumnya yang sempat hilang. Serta membuat harinya kembali ceria.

“Maafkan aku…,” bisik Tao, lirih. Hatinya terasa teriris, perih.

Wu Yi Fan tetap tak bergeming. Ia mendengar jelas apa yang dikatakan Tao. Tapi, dengan sekuat tenaga untuk tidak menangis. Dia tak ingin kabar kembalinya diiringi dengan kepedihan dari Korea.

Sehun bangkit, menuju dapur dan kembali dengan membawa semangkuk besar berisi es batu. Lu Han, dengan amat hati-hati mengambil satu bongkah es dan melapisinya dengan plastik bening. Kemudian, “Kris, izinkan aku… .” Tangannya yang terampil mengusapkan es tadi tepat di pipi kiri Wu Yi Fan yang lebam. Wu Yi Fan tetap pada posisinya, namun ia tetap merasakan ketika pipinya yang panas terkena es yang dingin, sehingga ia hanya bisa memejamkan matanya. Membiarkan tangan lihai Lu Han mengobati luka pukulannya.

Dan tanpa disadarinya, mengingat suasana tegang di ruangan itu, air matanya perlahan menetes dari tiap ujung matanya. Kembali teringat semua kejadian yang telah ia lakukan bersama semuanya. Dalam setiap detik, selalu ada suka dan duka, sedih dan bahagia, sampai hari itu, perpisahan yang berat. Makin deras air matanya meleleh, hingga membuat Lu Han berhenti mengusap pipi kirinya.

Semua menunggu apa yang terjadi dalam degupan jantung yang sama-sama berfrekuensi cepat. Apa yang membuatnya menangis? Semua berasumsi bahwa Lu Han terlampau keras mengobatinya. Wu Yi Fan tetap memejamkan matanya. Membiarkan semua adegan hidupnya dalam dua tahun ini terus berputar dalam layar alam bawah sadarnya. Perlahan, sesenggukan muncul dari dalam tenggorokannya. Ia mulai merasa sulit untuk mengatur nafasnya. Dan tampak wajahnya mengekspresikan perasaan yang tertunda dalam benaknya.

Sampai kemudian, kedua matanya terbuka. Terlihatlah jelas badan beningnya yang semula putih menjadi kemerah-merahan. Matanya basah, sembab. Semuanya menanti, terus menanti, dalam diam yang mencekam. Wu Yi Fan memandang mereka satu persatu, meneliti pesan apa yang mereka coba sampaikan melalui tiap kedipan mata. Tanpa memberi suatu sinyal, ia bisa merasakan apa yang mereka semua rasakan. Sakit, yang amat sangat. Hingga akhirnya, Wu Yi Fan tersenyum sederhana dan berkata pelan, “aku mencintai kalian semua… .”

***

“Darkness in my eyes but light up in the sky” -Wu Yi Fan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s