0

the couple who can’t be moved.

Going back to the corner where I first saw you
Wishing you were there ’cause I have something to say
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying, “If you see this boy can you tell him where I am?”

Some try to hand me money, they don’t understand
I’m not broke – I’m just a broken-hearted girl
I know it makes no sense but what else can I do?
How can I move on when I’m still in love with you?

What if one day I wake up and find that I’m missing you
And my heart starts to wonder where on this earth you could be
Thinking maybe I’ll come back there to the place that we’d meet
And I’ll see you waiting for me on the corner of the street

So we’re not moving, we’re not moving

You were there, sitting there, waiting for me
With your sleeping bag and your tired-innocent face
You caught my eyes as I caught your eyes
Nostalgia started and memories showed suddenly

People talk about the couple who’s standing in the corner
Nothing to talk, nothing to do, just there in one meter distance

And maybe we’ll get famous as the couple who can’t be moved
Maybe I won’t mean to but I’ll see you on the news
And I’ll come running to the corner
‘Cause I’ll know it’s just for me
I’m the girl who can’t be moved
You’re the man who can’t be moved
We’re the couple who can’t be moved

[terinspirasi dari “the script – the man who can’t be moved” dengan beberapa perubahan seperlunya]

Aside
0

Noel hanya bediri di sana. Menatap mata biru Alexis yang juga sibuk menatapnya. Setengah menit keduanya hanya saling menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata. Sedangkan salju mulai menghujani sebagian jalan. Kedua nafasnya beradu hingga mengeluarkan asap yang hangat.

“Ini hanya membuang-buang waktu,” Alexis mulai berbalik dengan canggung. Taksi yang ia pesan sudah berada di seberang jalan, dekat dengan toko bunga tempat Noel membeli bunga untuknya. “Pada akhirnya aku juga akan kembali ke Cleveland. Aku di sini hanya untuk urusan bisnis, kau tahu itu kan?”

Noel tampak tak berdaya. Ia memang tahu bahwa wanita berambut cokelat muda di depannya hanya akan mencari partner kerja untuk bisnis ayahnya dan pasti akan kembali ke Amerika. Namun semuanya terasa begitu cepat bagi Noel. Maka pria itu hanya berdiri di sana, nyaris membiarkan Alexis menyeberang jalanan sendirian, hingga akhirnya lengan maskulinnya meraih tangan Alexis.

“Maukah kau …,” Noel ragu-ragu. “Setidaknya berjalan-jalan bersamaku … .” Alexis menaikkan alis, menanti kata-kata selanjutnya. ” … saat ini, supaya aku tidak merasa benar-benar kehilangan …,” Noel mendesah. ” … dirimu.”

Senyum terlukis di bibir Alexis yang merah, bukan senyum setuju, begitu pikir Noel.

“Pesawatku akan segera datang, Noel,” Alexis menggenggam erat tangan Noel yang sama-sama bersarung tangan sepertinya. “Aku … pasti akan merindukanmu,” kata Alexis akhirnya, dengan sedikit pelan dan menyesal, membuat Noel merasa akan terjun dari lantai paling atas apartemennya. ” … aku juga akan merindukan roti-rotimu, kismis-kismis di meja marmer, dan gula-gula halus itu. Mereka sangat indah untuk selalu diingat.”

Pada saat itu Noel ingin mengabadikan momen seperti itu dan menyimpannya di sebuah botoh sehingga ia bisa selalu membuka botolnya ketika ia merindukan Alexis di kemudian hari. “Apakah kau hanya akan rindu roti-rotiku? Atau sesuatu yang lebih dari itu?”

“Semuanya,” jawab Alexis singkat. “Tapi kurasa aku tidak berhak atas semuanya karena kita hanya tetangga sementara se-apartemen, bukan?” Penekanan pada kata tetangga sementara se-apartemen membuka Noel seketika terjatuh dan tak bisa bangkit. “Aku tidak berhak melarang apa yang ingin kau lakukan, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dan apa yang kau sukai.”

Noel tak bisa menahan tangannya untuk menggenggam tangan Alexis. Wanita itu melepas genggamannya, meluncur bersamaan raganya masuk ke dalam taksi. Noel yang masih berdiri di seberang jalan segera berlari sebelum Alexis menutup pintu taksinya.

“Tunggu!”

Mata Alexis membesar, bingung sekaligus penasaran. Apa yang terjadi dengan pria pembuat dessert terbaik se-Paris ini? Apa yang terjadi dengan tetangga sementara se-apartemennya ini?

“Je suis tombé amoureux de toi,” bisik Noel akhirnya. Tangan kanannya menggenggam erat pintu taksi supaya Alexis tidak segera menutupnya dan kabur, sedangkan tangan kirinya mencengkeram pinggiran atap taksi. Noel hanya menunduk, sama sekali tak berani menatap reaksi Alexis berikutnya.

Alexis merasa senang mendengarnya, bukan karena Noel menyatakan perasaannya, namun bagaimana dia mengucapkan kalimat itu. Je suis tombé amoureux de toi. Dengan aksen Prancis yang kental dan nyata. Kalau bisa ia ingin mendengar Noel mengatakannya sekali lagi, dengan sedikit desahan pada kata toi.

“Ayahku selalu bilang kalau kau bisa memiliki apa yang kau inginkan tanpa benar-benar memilikinya,” kata Noel, masih belum berani menatap Alexis. “Dan kurasa, itu terjadi padaku. Terhadapmu.”

Alexis tak menjawab. Noel berasumsi ia akan marah atau dengan segera menutup pintu dan kabur. Namun tidak, Alexis tetap di situ. Mulai mengamati betapa wajah Noel benar-benar seksi untuk orang Prancis. Rambut hitam ikalnya berantakan dengan taburan salju Paris di awal Desember. Bibir tipisnya terbentang dengan penuh penyesalan.

“Apa yang terjadi dengan Eloise?” tanya Alexis, akhirnya.

“Tidak ada,” jawab Noel, sedikit muram karena Alexis justru bertanya tentang teman SMA-nya itu daripada tentang dirinya sendiri. “Kita hanya berteman, sungguh.”

Alexis tersenyum kecil. “If we meant to be, we will be,” katanya dalam bahasa Inggris. Dan tiba-tiba ia merasa bersalah telah mengatakannya, mengapa dia membuat sebuah sumpah? Mengapa ia memberi pria yang baru dia kenal sebuah harapan yang tak pasti? Mereka hanya tetangga berbeda kamar di sebuah apartemen, keduanya tahu itu. Mengapa keduanya berpikir untuk sesuatu yang lebih dari sekedar tetangga se-apartemen? Maka Alexis buru-buru mengatupkan mulutnya. Ia butuh belajar banyak untuk mengatur kapan lisannya bisa bicara dengan pikiran. Bukan dengan perasaan.

Noel tersenyum simpul. “Aku tidak tahu apakah aku pantas.” Apa? Ia bahkan tidak tahu apa yang sedang ia katakan. Apa maksudnya? Pantas untuk apa? Pantas untuk menjadi bagian dari keluarga Alexis Allen yang terkenal itu? Seorang pembuat dessert di Paris bersanding dengan pengekspor manisan terbaik se-Amerika itu?

Hening sejenak. Alexis merasa sudah tidak ada yang akan dibicarakan. Namun ia juga tidak ingin segera pulang. Ia merasa nyaman dengan adanya Noel di dekatnya. Meskipun itu berarti membuat Noel harus berdiri dan terus menahan pintu taksi supaya tidak ditutup. “Terima kasih, Noel. Aku tidak akan melupakan kota ini, apartemen kita, kedaimu, restoran Thailand, Seine, kerlap-kerlip di puncak Eiffel, toko bunga Chantal, dan semuanya. Semuanya yang telah kulalui bersamamu.”

Noel merasa ia sedikit kecewa. Kecewa karena Alexis bahkan tidak membalas kalimatnya tadi.

“Aku tidak tahu apakah ini akan terlalu berlebihan,” sambung Alexis. “Tapi aku senang saat kita menghabiskan waktu bersama. Mungkin akan berlebihan jika aku mengatakan aku mencintaimu, tapi aku senang saat kita membuat roti bersama.” Alexis tersenyum. Memaksa menutup pintu perlahan. “Au revoir.”

Itulah terakhir kalinya Noel mendengar suara lembut Alexis, suara yang beberapa kali singgah di mimpinya untuk membelainya. Itulah terakhir kalinya Noel melihat paras cantik seorang Alexis Allen, penerus takhta keluarga Allen, dengan berbagai perusahaan atas nama dirinya. Allen Candy, khususnya.

Noel jelas akan merindukan semua yang telah mereka lalui bersama. Saat pertama ia membantu Alexis menggunakan lift dengan bahasa Prancis, membuat Pumpkin Pie dengan resep milik nenek Alexis, makan malam di restoran Thailand di tepi Seine, menikmati keindahan menara Eiffel di tengah malam, atau hal-hal lain yang mereka lalui selama akhir Oktober sampai awal Desember ini. Dan yang jelas akan membuat Noel rindu adalah momen saat aksen Prancisnya yang lucu saat mereka hanya berdua di dapur kedainya.

Alexis menyandarkan kepalanya di jendela taksi. Cepat atau lambat ia akan segera sampai di Cleveland. Di tengah keluarganya lagi. Membahas tentang kemajuan perusahaan di bawah kekuasaan Albert Allen, ayahnya, bersama adik lelakinya, Alexander Allen. Namun, tujuan lain ia datang ke Paris belum dia raih. Yaitu menguasai Paris. Ia ingin menjadikan perjalanannya tidak hanya untuk urusan bisnis. Namun juga untuk urusan pribadinya. Seperti, bertemu Noel Quennell. Pria tampan pembuat dessert yang tinggal satu lantai di bawahnya. Yang secara tidak sengaja masuk ke kehidupannya selama di Paris. Membuat hari-harinya yang membosankan karena bisnis dengan manisnya choco chips di atas roti baguette. Atau taburan parmesan yang menyelimuti croissant.

Seperti kata terakhirnya, if we meant to be, we will be. Entah itu di suatu tempat yang tak terduga atau di suatu waktu yang juga tak terduga. Noel dan Alexis yakin keduanya akan bisa bertemu kembali.