0

Farewell, Friend (Pt. 2)

((Seluruh nama yang ada dalam cerita memang benar adanya, penyampaian dan alur cerita hanya fiktif belaka. Perspective: Orang ketiga))

Dia sudah sampai. Di tanah kelahirannya. Negara yang sudah lama ia tinggalkan, untuk menjalani kehidupannya yang juga baru saja ia tinggalkan pula. Tapi ada yang salah dengan tempat ini. Tempat ini seperti asing baginya. Semuanya terasa tak sama lagi. Di mana dia sekarang? Di China. Seperti ini kah China-nya? Karena mungkin raga dan hatinya masih berada di tempat yang berbeda.

Lelaki tinggi itu mendesah, memposisikan sun glasses-nya dengan benar dan menyembunyikan kepalanya dalam hoodie hitamnya. Bagaimana pun ia harus benar-benar tampak tak dikenali orang-orang di sekitarnya. Karena perginya dia dari Korea bukan merupakan acara-acara resmi dari pihak agensi, tapi merupakan pelarian pribadi. Untuk itu, selama tak ada yang berteriak histeris menyebut namanya di tengah keramaian, ia akan baik-baik saja sampai pulang ke rumahnya.

Downtown. Bukan tempat yang baru baginya, namun tempat yang berbahaya untuknya saat ini. Ia terus menunduk dan tetap berjalan cepat. Menerobos ratusan orang yang lalu lalang di kanan dan kirinya. Langkahnya yang panjang terhenti, tatkala dari dalam sebuah toko berlabel Hermes terlantun lembut suara yang sangat ia kenal. Suara yang beberapa jam lalu masih dapat ia dengarkan secara langsung. Suara yang masih sangat hangat di telinganya.

“Baekhyun-ah…,” desisnya. Terulang kembali semua memori yang telah ia coba tutup rapat-rapat.  Terlintas dengan jelas wajah manja Baekhyun, yang kemudian disusul Chanyeol, Suho, dan… Tao. Tangisnya pecah saat itu juga, pelan dan menghanyutkan. Ia terus berdiri di pintu depan toko pakaian dari Prancis tadi dengan sesunggukan pelan. Tak ada yang memperhatikan, tak ada yang mengetahui, dan tak ada yang ikut merasakan. Semuanya, yang saat ini ia rasakan.

Tangannya mengepal keras, mencoba untuk menguatkan hatinya yang mulai mudah rapuh. Ia mencoba berhenti bernafas, sekedar untuk menghilangkan sesunggukannya. Bagaimana pun ia sudah bertekad, ia sudah bukan anak-anak lagi. Dia sudah dewasa. Dia harus bisa mengendalikan emosinya. Namun, apa dayanya? Dewasa atau bukan, dia tetaplah manusia. Yang masih mendambakan teman, dan kasih sayangnya. Juga kenangan bersama yang masih terus terjebak dalam kepalanya.

Kakinya tergerak untuk terus berjalan, melewati beberapa zebra cross. Ia telah menghubungi adiknya untuk segera menjemputnya. Dan tempat mereka akan bertemu masih satu setengah mil lagi. Cukup jauh memang, tapi dia menolak untuk menggunakan transportasi umum. Ia lebih suka berjalan. Membiarkan dirinya merasakan menjadi dirinya yang dulu. Dirinya yang gemar berlari dan berjalan. Dan mulai menghilangkan dirinya yang selalu menggunakan kendaraan mewah milik agensi.

Namun, saat kakinya tepat berpijak pada di depan sebuah toko elektronik, ia berhenti kembali. Dalam kaca luar toko, salah satu televisi LG yang dipamerkan tengah menayangkan berita mengenai single-nya, Overdose. Kontan ia menoleh, dapat dilihat dengan jelas olehnya, Suho, dalam balutan jas putih nan elegan bersama semua member, termasuk dirinya, di MNet tiga hari yang lalu.

Kemudian, seolah waktu kembali berjalan mundur. Membawanya kembali saat dirinya masih berada di bandara di Incheon. Saat semua, dua belas pria berbagi air mata bersama, untuk terakhir kalinya dalam hidupnya. Ia merasa jatuh, ketika mengingat kembali betapa rapuhnya dia. Mengingat betapa lemahnya dia di hadapan teman-temannya. Betapa buruk peragainya. Betapa ia ingin sekali untuk menghancurkan dirinya sendiri.

Ia kembali rapuh dan jatuh, hanyut dalam pilunya tangisan. Itulah momen terakhir kalinya berada di atas panggung. Itulah momen terakhir kalinya tertawa dan terharu di atas panggung bersama member lainnya. Itulah momen terakhir kalinya dikenali oleh publik. Yang mana ia sangat yakin, dalam beberapa hari lagi, akan terbit beberapa berita  di berbagai media dengan namanya sebagai headline dan bercetak tebal. Setelah itu, namanya akan hilang begitu saja. Tenggelam dan terkubur dalam-dalam hingga tinggal menjadi sebuah nama yang biasa. Sebuah kenangan yang terlupakan. Sampai mungkin akan didengarnya sebuah pertanyaan, “Siapa itu Wu Yi Fan?”

***

Advertisements