0

Esperar Pt. 9

Aku gagal. Ya. Gagal total━bisa dibilang seperti itu. Bahkan aku tidak bisa membujuk Ratu, bibiku sendiri, yang telah lama mengenal sifat luar dan dalamku, orang yang telah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Seolah semua orang tak ingin aku bahagia dengan bebasnya Ralph dari penjara. Ayahku, Dan, dan sekarang bibiku sendiri. Rasanya aku ingin sekali untuk berlari ke ujung dunia dan berteriak sekencang-kencangnya hingga suaraku habis. Aku tahu itu, hanya ada satu jalan keluar dari hutan tak berujung. Begitu pula, hanya ada satu jalan untuk masalahku ini; aku harus melawan pemerintahan Perancis!

Tapi apa yang harus kulakukan untuk itu? Aku bahkan tidak punya pasukan atau senjata yang lengkap. Aku pasti akan kalah. Perbandingannya pasti satu banding angka yang tak pernah kuketahui. Menangis dan terus memegangi kertas terakhir yang merupakan pemberian Ralph lima tahun lalu dengan gemetar. Merasakan fatamorgana yang tiba-tiba muncul. Kamarku yang tiba-tiba kosong dan tanpa udara. Gelombang nada rindu yang meronta-meronta menyelubungi seisi kamar yang mulai ringan.  Desakan air mata yang berhasil luluh tak tertahankan.

Aku memandangi mesin ketik yang berada di atas meja kerjaku. Ingin rasanya jari-jariku berdansa di atas tuts-tuts hitam yang penuh dengan huruf dan angka itu. Itu dia! Aku akan membuat sebuah opini yang mana akan menggulingkan pemerintahan Perancis dan membebaskan Ralph. Namun bukan hanya aku saja, aku akan menggalang massa dan pendukung dengan kobaran kalimat-kalimatku. Menekan tiap tuts dengan keras hingga terdengar bunyi kasar. Menjadikan kertas kosong dengan tinta-tinta menikam yang kejam. Selesai sudah dan aku menamainya opini jahat.

Pergi ke kantor dengan membawa opini jahatku. Aku tahu seharusnya aku tidak masuk kerja karena mereka meliburkan━ya, mereka tahu apa yang terjadi denganku. Mereka memandangku bingung saat aku dengan tanpa merasa ada yang salah berjalan menuju tempat Dan. Dan bekerja di daerah penyusunan data dan kali ini aku yang akan menggantikan posisinya untuk sementara. Hanya untuk lima lembar opini yang kelak akan menggemparkan persekutuan di antara keduanya.

Dan menatapku dengan heran ketika aku sudah berada tepat di depannya. Dia mengamatiku dari bawah sampai atas.

Miss Dayton …,” suaranya gagal memunculkan nada kesopanan. “Anda tak seharusnya bekerja. Mereka kan memberi Anda libur … .”

“Aku tahu, tapi aku punya sebuah opini yang harus diterbitkan besok,” kataku━dengan tak ada kesopanan yang formal. “Jadi jika kau tidak keberatan, aku akan menggantikan posisimu di sini.”

Dan tampak mempertimbang sesuatu. Aku tahu dia sebenarnya tak setuju tapi kemudian aku memaksanya dengan “wajah malaikat” ku dan kini dia berlalu. Aku mulai bekerja dan menata tiap data yang semua pegawai berikan selama seharian. Sampai pada malam hari, saat semua orang telah kembali. Hanya Dan yang masih menungguiku dan sepertinya dia tak ingin meninggalkanku sendiri di kantor yang tua ini.

Menunggu mobil kerajaan dan aku mulai lelah. Hujan turun derasnya dan membuat tubuhku dingin. Aku duduk di bangku tunggu di luar kantor. Kusandarkan kepalaku di dinding luar sementara kakiku kuselonjorkan dengan relaks. Sayup-sayup aku mendengar suara mobil yang ternyata mobil milik Dan. Ia keluar dari mobil dan menawariku untuk ikut dengannya. Karena aku tak tahu bakal menghabiskan berapa jam jika aku masih menunggu mobil kerajaan, jadi aku menerimanya.

Dan membangunkanku dengan amat sangat lembut. Kubuka mataku dan menunggunya sampai normal. Saat aku melihat paras menawan milik Dan yang sekilas mirip dengan Ralph━namun kembali berbeda setelah mataku sudah merasa lebih baik. Aku keluar setelah mengucapkan terima kasih padanya. Halaman kerajaan yang basah setelah hujan memaksaku untuk berlari lebih dan lebih cepat. Hingga aku sudah aman di dalam kamar dan tak ada seorang pun di kerajaan yang menyadarinya.

Kuletakkan tas kerjaku di atas meja dan secarik kertas ganjil meluncur turun ke lantai. Aku penasaran apa isinya, jadi aku memungutnya dan membuka tiap lipatannya. Kertas putih ini berisi tulisan tangan khas milik Dan. Isinya:

Aku hancur, apakah kau mendengarnya? Aku buta, dan hanya kau yang bisa kulihat. Menyusuri hamparan pasir dengan tanpa teman. Terbang jauh menembus awan dengan tanpa sayap. Saat dia membuka lengannya untuk mendekapmu, itu tidak berguna. Karena aku bisa melakukannya lebih dari itu. Saat dia menjatuhkan dirinya ke tumpukan rangkaian bunga, itu tidak ada gunanya. Karena aku bahkan lebih ahli daripada dia.

Aku tahu aku pernah punya kekuatan yang lebih darinya. Aku tahu aku tidak pernah punya kalimat untuk dikatakan. Tapi aku hanya ingin kau tetap diam dan bertahan. Meskipun itu untuk dua detik. 

Jadi …, inikah yang kudapatkan setelah apa yang telah kita lakukan bersama?

Air mataku mendesak keluar dari pelupukku━dan berhasil. Sesakit inikah hati Dan setelah yang kukatakan saat itu? Apakah ada wanita yang lebih kejam dari aku di kalimatnya ini? Memberi kepedihan yang tiada tara pada hari pria ini. Haruskah aku memberinya secuil harapan yang tak berarti?

Written by Hana Annida.

Advertisements
0

Esperar Pt. 8

Ya. Aku berhasil mengatakannya━dengan sempurna. Semua yang sebenarnya ada dalam pikiranku dan semua perasaanku yang ada. Kutatap dalam-dalam mata biru Dan yang juga menatapku tanpa kedip. Mungkin dia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. Aku menatapnya seolah aku adalah seekor singa yang menemukan mata kijang di hutan. Kualihkan tatapan mataku pada ayah yang berada di sampingku. Aku ingin menunjukkan padanya yang sesungguhnya. Yang benar-benar ada dalam diriku.

Diam cukup lama. Bahkan tak ada kalimat setelah pengakuan besarku tadi. Hanya ada suara berita dari radio yang mengiringi perjalanan. Ayah sibuk memandangi pemandangan yang gelap dihiasi salju di luar jendela mobil. Dan hanya tertunduk memandangi sepatu botnya yang mengilap. Aku mengamatinya cukup lama namun dia sama sekali tak mendongakkan kepalanya untuk menatapku. Kalau aku bisa membaca pikirannya mungkin aku akan menyimpulkan bahwa dia akan membenciku━sangat membenciku mungkin.

Menurutku hubungan kami akan menjadi sangat canggung. Dia pasti berpikir aku adalah wanita terkejam sedunia. Yang mencoba mempermainkan perasaannya dengan mengakui sebuah pengakuan sadis yang berhasil menghancurkan hatinya. Mungkin dia berpikir bagaimana dia sangat menyesal telah mengenalku dan akan menghabiskan sebagian hidupnya untuk melupakan semua kejadian yang telah terjadi di antara kita selama dua bulan terakhir. Aku tak pernah habis pikir untuk mencari tahu.

Perjalanan masih sangat jauh sepertinya. Aku benci menunggu sampai di kerajaan. Kupejamkan mataku karena aku merasa aku butuh itu. Dua menit dan aku masih belum bisa tidur dengan nyaman. Mungkin karena jalanan yang dilewati tidak cukup baik.

“Dia sudah tidur,” bisik ayah tiba-tiba. Memejamkan mata bukan berarti aku tidak bisa mendengar apa yang terjadi. Kututup mataku serapat mungkin namun ketajamkan setajam mungkin pendengaranku. Ini saatnya mengetahui pendapat ayah mengenai pengakuanku tadi. “Kau baik-baik saja kan, Dan?”

Suara desahan panjang Dan terdengar, namun aku tak ingin membuka mataku untuk memastikannya. Kupikir sudah waktunya mengetahui pengakuan yang tak kalah sadis dari Dan. Mungkin dia akan menjelek-jelekkan nama Ralph, atau mungkin malah menjelek-jelekkan namaku di hadapan ayahku sendiri.

“Aku baik-baik saja Tuan Dayton, terima kasih,” balasnya pelan. Sepelan-pelan apapun aku masih bisa mendengarnya. “Aku hanya ingin tahu seperti apa Ralph Radford itu sampai membuat dia begitu mencintainya.” Deg! Kembali kupertajam pendengaranku. Aku tidak akan melewatkan momen ketika ayah mendeskripsikan Ralph. Aku berani bertaruh ayah akan menceritakan sisi buruk Ralph.

“Dia memang pria yang tampan tapi kurasa kau lebih tampan darinya,” aku ayah. “Aku tidak begitu kenal dekat dengan anak itu. Seingatku dulu aku menilai dia anak yang kurang peduli dan kurang sopan, jadi aku tak tertarik untuk mengenalnya dengan dekat.” Ya, dia benar. Ayah tak pernah ingin tahu begitu banyak tentang Ralph. Namun ia tak pernah melarangku untuk menghabiskan waktu bersamanya━sama sekali.

“Meski begitu menurut Anda tapi dia tetap sempurna di mata Skyla,” kata Dan yang tiba-tiba membuatku terkejut━dalam keadaan mata tertutup tentu saja. Entah mengapa kalimat Dan yang baru saja dikatakannya begitu menusukku. Sebegitu sakit kah hati Dan? Dan sebegitu kejam kah aku padanya? Dan tiba-tiba aku berpikir bahwa Dan tidak akan membenciku, tapi justru dia akan membenci Ralph. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku berpikir begitu. Itu datang dengan tanpa ada yang mengundangnya.

Aku ingin membuka mataku dan mengatakan padanya bahwa dia tidak perlu membenci Ralph━jika dia memang melakukannya. Dia hanya perlu membenciku. Ralph tidak pernah sekalipun mencoba menghancurkannya. Tapi aku-lah yang telah membuatnya patah hati. Aku terlalu lelah untuk terbangun jadi aku pun mulai membiarkan tubuhku istirahat meski pikiranku tidak. Dan memutuskan untuk tidak mendengarkan percakapan mereka berdua lagi.

Aku mulai tersadar dari tidur saat ragaku sudah tak berada di dalam mobil. Pusing sebentar dan pandanganku kembali normal. Sekarang aku berada dalam sebuah dekapan yang berjalan. Rupanya aku sudah sampai di kerajaan dan Dan menggendongku menuju kamar. Aku menatapnya dan dia menatapku selama tidak lebih dari tiga detik. Ingin rasanya bertanya sesuatu padanya, tapi rasanya leherku terikat tali tambang yang kuat sehingga aku tak bisa berkata apapun.

Dan membuka pintu kamarku dan meletakkanku dari dekapannya di atas ranjang. Ia hendak keluar dengan mulut tertutup━bahkan tersenyum pun tidak. Kupanggil namanya. Ia menoleh menatapku. Entah mengapa aku bisa membaca apa yang ada dalam matanya. Seperti ada siksaan dalam matanya yang begitu pedih. Aku tidak yakin apa itu tapi aku yakin itu membuatnya terjatuh. Dan sepertinya ia tak mengenalnya sama sekali.

“Terima kasih,” kataku. Ya. Hanya dua kata yang bisa keluar dari lisanku. Dan mengangguk pelan seraya menjawab, “sama-sama.” Setelah itu dia menghilang begitu saja. Menutup pintu kamarku dan menghilang. Aku memandangi pintu kamar yang tertutup dan mendesah. Sudah terlambat untuk memintanya kembali.

Written by Hana Annida.

0

Esperar Pt. 7

Aku berada di ruang tamu di rumah kecil milik Achille Merieux, teman Ralph━ketika awal pindahannya dari London ke Marseille. Rumah ini terlihat makin kecil karena banyak barang di setiap sudut. Mungkin kau berpikir rumah ini kumuh atau tak terurus. Tapi tidak, rumah ini bersih dan rapi meskipun begitu banyak barang. Dan barang yang berada di sini bukan barang yang biasa. Ini semua merupakan barang-barang yang cukup mahal untuk ukuran pria Perancis sepertinya.

Tiba-tiba muncullah seorang wanita dari salah satu pintu yang ada di ruangan ini. Wanita yang sepertinya lebih tua dari aku. Sweater putih membungkus kulitnya yang putih bersih. Rambutnya hitam pekat dan matanya pun hitam tajam. Menurutku dia orang Asia bagian timur. Percampuran darah Turki dengan Jerman. Ia tersenyum melihatku dan kemudian mendekatiku.

“Namaku Questa Darell, aku tunangannya,” pandangannya menuju ke arah Achille yang berdiri di depan pintu bersama Ralph. Achille hanya setinggi bahunya. “Kau pasti Skyla Dayton. Aku sering melihatmu di koran,” ia menarik lenganku pelan. Aku━yang masih merasa kepalaku berdenyut walaupun darahnya sudah kering mendekatinya.

Ralph berkata bahwa aku butuh istirahat untuk beberapa jam. Aku setuju dengannya. Aku memang butuh tidur. Hari yang kulalui sudah cukup berat dan setidaknya tidur pasti bisa menenangkanku. Questa yang paham segera membawaku ke sebuah ruangan yang aku yakin pasti kamarnya. Ada satu ranjang, sebuah almari, dan satu meja kayu kosong.

Gadis dengan bibir tipis itu pun memintaku untuk duduk di ranjang sementara ia mencarikan sweater yang akan kukenakan. Tubuhku kembali merasakan kehangatan yang luar biasa setelah sweater merah mudanya menyelubungi tubuhku. Questa keluar sebentar dan masuk dengan membawa kotak kesehatan putih. Dia melepas kain yang mengikat kepalaku kemudian jarinya yang terlatih mulai membersihkan darahku yang sudah mengering karena udara dingin.

“Kau kehilangan banyak darah,” ia memandangi kain-kain putih yang mulai memerah. Kembali, aku merasa sangat pusing━dua kali lebih pusing dari sebelumnya. Kepalaku berdenyut makin kencang hingga aku mendesah. “Kusarankan kau tidur sekarang. Esok pasti akan lebih baik.”

Kubaringkan kepalaku di bantal yang ternyata cukup empuk setelah Questa kembali mengikatkan kain baru di kepalaku. Aku sedikit mencondongkan kepalaku ke kanan karena luka di kepalaku berada di kepala bagian kiri. Kupejamkan mataku dan mengingat kembali semua yang terjadi padaku. Sepertinya cepat sekali berlalu. Sekarang aku sudah berada di rumah Achille padahal belum ada dua puluh empat jam yang lalu aku masih berada di kerajaan.

Saat pada posisi beta seperti ini aku membuka mataku dan yang kulihat hanya wajah rupawan Ralph. Dia duduk di pinggir ranjang. “Kau belum tidur?”

Aku menatapnya dalam-dalam. “Kau sendiri?” Kutahu seharusnya aku lebih peduli padanya. Dia tidak pernah mempedulikan dirinya sendiri jadi aku-lah yang harus mempedulikannya.

“Aku baik-baik saja, jangan kuatir.” Aku sudah menebak dia akan menjawab seperti itu. “Beberapa jam lagi pasti ayahmu datang. Aku yakin itu.”

Aku menggeleng━meskipun aku tahu rasanya sakit untuk menggerakkan kepalaku ke kiri. “Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini. Kau sudah diperlakukan dengan tak layak di sini. Hidupmu berada di bawah ketok palu hakim padahal kau tidak pantas mendapatkannya. Kau harus bebas. Dan aku ingin melakukannya.” Aku menangis━dengan sendirinya.

Ralph mengubah posisi duduknya. Matanya yang hijau mulai terlihat bening karena air matanya mulai mendesak untuk mengucur namun dia bisa menahannya dengan nyaris sempurna. Sepertinya ia tak ingin aku melihatnya menangis. “Kau gadis yang sangat baik yang pernah kukenal. Terima kasih untuk semua pengorbananmu sampai saat ini. Tapi …, kau mungkin tidak bisa melawan pemerintahan di sini. Kau warga negara Inggris dan bukan Perancis.”

“Dan apakah pemerintahan Inggris akan membiarkan warga negaranya teraniaya oleh negara lain padahal dia tak bersalah?” aku berhasil menyerangnya━secara utuh untuk sementara. Ralph membisu untuk beberapa menit. Kuharap dia memikirkannya baik-baik. “Aku akan membebaskanmu meskipun itu berarti aku akan diusir dari kerajaan.”

Kali ini dia gagal dalam usahanya menahan air matanya. Dia menangis secara dalam dan aku melihatnya━untuk pertama kali sejak terakhir kami berpisah lima tahun silam. Aku tak bisa untuk tidak menangis juga. Hanya ada satu suasana seperti ini dan aku merasa sangat beruntung karena aku bisa merasakannya secara langsung dan sempurna.

 

Aku menatap layar televisi sederhana milik Achille dengan nyaris tanpa kedip. Disiarkan berita mengenai keberangkatan ayahku dari Inggris dan sampai di Perancis. Aku bisa melihat ayahku━dengan wajah kuatir yang nampak jelas mengatakan bahwa siapapun yang bisa mengembalikanku padanya, ia akan mendapat penghargaan dari kerajaan.

Televisi mati. Ralph yang melakukannya. Hening sejenak dan aku kembali memeluk tubuhku karena sepertinya udara dingin menyelinap lewat jendela. Questa yang semula mematung serius pada berita berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Begitu juga dengan Achille. Aku mendesah. Ralph menjanjikan semuanya akan baik-baik saja jika kita tidak berbuat yang melawan hukum.

Malamnya aku tidak bisa tidur dengan tenang. Aku takut. Bukan hanya takut mengenai kedatangan ayahku, namun Questa yang belum juga kembali pergi setelah makan malam tadi. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya tapi itu sama sekali tak membantu. Dan aku berharap tak akan ada lagi malam yang seperti ini.

Berada dalam posisi beta━lagi. Suara mobil yang berderum kencang terasa sangat dekat. Entah hanya halusinasiku atau tidak, aku benar-benar merasakannya makin dekat dan makin dekat lagi. Suara langkah kaki yang keras juga terdengar jelas. Pintu terdobrak. Aku membuka mata dan mencoba untuk duduk. Langkah kaki berlari yang nyata karena lantai rumah ini terbuat dari kayu.

Dua orang berbadan besar menuju kamar Questa. Mereka menarikku. Aku menjerit dan meronta. Saat keduanya memaksaku keluar, kusempatkan mataku untuk melihat di mana Ralph berada. Tapi aku tak menemukannya. Yang bisa kulihat hanyalah wajah polos tanpa dosa milik Achille dan Questa yang baru saja keluar dari kamar. Mataku mengisyaratkan untuk memohon pada mereka, namun mereka tak melakukan apa-apa. Hanya diam.

Aku sudah berada di luar sekarang. Ini tengah malam yang ramai. Aku melihat mobil kerajaan yang dikelilingi mobil polisi milik pemerintah Perancis. Mereka tahu aku ada di rumah Achille. Dan mereka menangkapku. Saat pintu mobil kerajaan terbuka dan dua orang dengan seragam putih tadi memaksaku masuk. Ayah memelukku dan aku melepaskannya. Aku meronta dan mencoba untuk kabur dari mobil. Namun percuma. Ban mobil mulai bergerak dan rumah Achille mulai menjauh.

Aku menjerit pada ayah━yang merupakan tindakan yang sangat tidak sopan jika aku melakukannya di kerajaan. Namun ini bukan kerajaan. Ini hanya mobil.

“Tenangkanlah dirimu, Nak. Lihat, siapa di hadapanmu.” Aku melihat sekitar dan baru aku menyadari bahwa Dan Yardley berada tepat di depanku. Aku terlalu sibuk menjerit sampai aku baru sadar dia berada dalam satu mobil denganku. Pria itu, yang selama ini menghabiskan waktu bersamaku. Dia yang mencintaiku dan pernah melamarku namun kutolak. “Dia calon pengantin priamu kelak. Tidakkah kau malu?”

Dan tersenyum tampan. Aku membelalak dan segera menggeleng dengan tegas. “Aku tak pernah sedetikpun mencintainya bahkan menerimanya sebagai calon pengantin priaku. Satu-satunya pria yang akan menjadi pasanganku adalah pria pirang yang kutinggalkan di rumah tadi.”

Written by Hana Annida.

2

Esperar Pt. 6

Aku terjatuh terlalu jauh dan aku sadar itu. Parahnya aku tak bisa kembali ke nol. Semuanya sudah berakhir begitu saja. Aku mulai menyadari bahwa aku berada di jalur yang salah dan secara bodoh aku menyadarinya tanpa berbuat sesuatu. Saat waktu akan berputar dan sekitar tujuh puluh tahun yang akan datang, ketika milenium sudah berganti dan peradaban mulai terbentuk dengan lebih baik. Di saat itulah mungkin aku bisa melakukan sesuatu. Namun aku yakin aku pasti sudah mati.

Semula semuanya berputar perlahan, satu detik kemudian bergetar semakin dahsyat. Itu terjadi dengan sendirinya dan tak ada yang mengatur. Aku mulai kembali bisa melihat, namun buram. Aku yakin aku berada dalam posisi beta. Dimana aku bisa menyadari sesuatu yang terjadi namun lebih banyak aku tidak menyadarinya. Perlahan terbuka dan aku bisa keluar━secara utuh.

Aku berada di atas sebuah ranjang dengan kain yang sudah kusut━sangat kusut lebih tepatnya. Ruangan berbentuk persegi dengan dinding kayu yang kuat dan dingin. Kotor dan tak terurus. Kusadari kepalaku terikat sebuah kain yang melingkar dan aku merasa sangat pusing sekaligus berdenyut. Terakhir hal yang terjadi pada kepalaku adalah sebuah benturan. Bola mataku mulai bisa menangkap gambar di depanku. Aku melihat seorang pria yang terduduk di depanku dengan posisi membelakangiku sekitar tiga meter jauhnya.

Rambut kuning pirang yang bergoyang dan sesenggukan. Aku langsung bisa mengenalinya. Itu Ralph. Aku yakin. Kupanggil namanya dengan mencoba berteriak. Namun hanya suara lemah layaknya detak jantung yang berhasil keluar. Ia menoleh menghadapku. Aku bisa melihat wajahnya yang merah dan basah. Dia menangis, aku yakin. Tidak mungkin keringat akan membanjiri wajahnya sementara angin yang sangat dingin masuk melewati jendela di sebelah utara.

Ia━dengan kaus tipis putih yang terakhir aku lihat saat ia berada di tiang gantungan berlari ke arahku. Aku menatap mata hijaunya yang menawan. Makin dekat makin terlihat wajahnya yang basah dan sangat merah. Bukan merah merona tapi merah padam. Ia memelukku dengan sesenggukan. Mungkin ia merasa bersyukur karena aku belum mati sepenuhnya.

Aku bertanya apa yang terjadi. Dia menceritakan semuanya. Saat sipir yang berada di belakangku memukul kepalaku dengan kayu kuat hingga membuat duniaku gelap. Saat itulah Ralph mulai terbakar dalam kemarahannya. Ia tahu aku terjatuh dan dia mulai melawan. Aku tak bisa membayangkan saat ia berhasil mengalahkan beberapa sipir yang menyerang hingga ia membawaku di tempat ini. Sesungguhnya aku masih berada di penjara. Ruangan ini adalah ruangan untuk peristirahatan yang jarang dilalui sipir.

Aku masih mengagumi pria pirang di depanku ini. Bagaimana ia bisa mengalahkan dengan tangan telanjang yang mana mereka membawa senjata yang sangat mudah untuk melumpuhkannya. Dia pria yang luar biasa. Seingatku ia tak pernah mengikuti aktivitas bela diri ketika masih di Inggris dulu. Bakat alami. Itulah yang terpikir setelahnya. Ya, mungkin bakat alami.

“Kita harus pergi dari sini secepatnya,” katanya setelah keheningan yang cukup lama. “Kita harus cepat pergi sebelum matahari terbit.”

Dia benar. Aku lebih dari yakin bahwa ayahku sedang perjalanan kemari. Berita mengenai kekaburan putri kerajaan Inggris━untuk kedua kalinya pasti akan dua kali lebih cepat daripada yang pertama. Aku tak bisa membayangkan wajah murka ayahku jika ia menemukanku kelak. Dan membawa janji mati yang pasti pada Ralph. Tapi aku pasti bisa mengubahnya sebelum ini terjadi.

Kita kabur lewat jendela. Itulah ide yang tiba-tiba diutarakan oleh Ralph. Aku tahu, Ralph punya kapasitas otak yang lebih dibanding pria di abad 20 ini. Seringkali otaknya terisi ide-ide yang jenius yang aku yakin hanya manusia dengan kepintaran yang tinggi yang juga memikirkannya. Namun tak jarang juga otaknya terisi ide-ide konyol yang berakhir pada kemasuk-akalan. Itu semua sering terjadi. Dulu.

Ralph berkata ia akan menggendongku mencari sebuah pemukiman dimana kedua temannya tinggal. Aku hanya bisa berkata “ya” karena mulutku tiba-tiba bisu akan kata “tidak”. Saat kami keluar dari melewati jendela, aku merasa kepalaku berdenyut makin kencang━kini tiga kali lebih kencang. Udara dingin di tengah malam ini pasti yang membuat kepalaku makin berdenyut dan mengeluarkan cairan. Aku yakin itu pasti darah.

Sekarang aku dan Ralph berada di atas atap Baumettes dan tak ada seorang yang melihat kami. Dengan perlahan dan pasti, kaki dengan betisnya yang kuat berhasil berpijak pada bumi. Sekarang aku hanya beberapa inci dari tanah. Kupandangi langit biru dengan bintang-bintang yang berkilauan cantik. Dan bola mataku berputar lebih cepat sehingga menangkap hidung Ralph yang lebih menjorok dari pipinya.

Aku berharap padamu, pikirku. Aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku berkata seperti itu. Apa yang tiba-tiba ingin aku harapkan darinya? Mungkinkah akan janjinya saat itu? Lima tahun lalu? Saat ia menulis akan kembali ke Inggris dengan dia sebagai … dan aku sebagai …?

Ralph mulai berlari dengan gesit. Menerpa kabut malam yang mulai merendah. Aku memejamkan mata. Salju-salju yang rintik mulai berani membekukan kelopak mataku. Dan lagi, kepalaku terasa sangat pusing dan sepertinya darahnya tak berhenti juga. Kurasakan darah dari kepalaku mulai membasahi lengan kiri Ralph yang menopang kepalaku.

Kaki Ralph berhenti bergerak. Kubuka mata dan kusesuaikan tubuhku dengan sekitar saat aku mulai sadar kami sudah berada di depan sebuah rumah. Rumah yang kecil━bisa kubilang begitu. Dengan cat putih yang sudah tak putih lagi. Kusam mungkin. Aku berdiri dengan Ralph yang masih menyangga bahuku. Ia mengetuk pintu kayu tua rumah ini.

“Untuk sementara kita akan tinggal di sini. Hanya sampai ayahmu menjemputmu kembali ke Inggris,” suaranya parau. Yang ia pikirkan hanya keselamatanku saja. Ia sama sekali tak pernah berpikir betapa ia lebih membutuhkan daripada apa yang kubutuhkan. Sejak kuliah Ralph tak pernah berpikir untuk menjaga kesehatannya, ia selalu bertanya akan kesehatanku. Seringkali membuatku juga menanyakan hal yang sama, namun ia selalu menepis.

Pintu kayu tua yang dengan tinggi kira-kira 2 meter itu terbuka. Seorang lelaki berkulit cokelat━yang aku yakin ia bukan orang Eropa berada hanya dua langkah dari kami. Rambutnya hitam pekat dengan bola mata cokelat yang nyaris sama dengan kulitnya. Ia mengenakan sweater biru tua yang panjangnya sampai sikunya. Ralph tersenyum dan berbicara dengan pria itu dengan bahasa Perancis. Aku terlalu pusing untuk mengartikannya, meskipun aku tahu sepatah kata dari satu kalimat yang terucap.

Lelaki itu tersenyum pada Ralph dan kini menatapku. Mengulurkan tangan kanan seraya berkata, “namaku Achille Merieux, Majesty.” Ia menggunakan kata ‘majesty‘ yang berarti ‘Yang Mulia’.

Aku menerima jabatan tangannya. “Skyla Dayton. Kau cukup memanggilku Skyla tanpa embel-embel seperti itu.” Ralph dan Achille hanya tersenyum kecil. Aku tak bisa tak tersenyum melihat mereka berdua tersenyum. Suaraku terdengar makin lemah setelah kalimat terakhir yang kuucapkan.

Achille mempersilakan kami berdua untuk masuk. Udara hangat kembali menyelimuti saat pintu ditutup. Sekarang di sinilah aku. Menjadi buronan untuk sementara di Negeri Frankreich. Yang sebentar lagi akan kembali ke tempat dimana seharusnya berada. Aku kemari hanya untuk satu hal━menyelamatkan Ralph dan mengembalikannya ke Inggris. Namun rencana panjang seperti ini bukan rencana yang mudah. Dan tentu akan sangat banyak rintangan ketika aku, dengan subjek sebagai bangsawan Inggris.

Written by Hana Annida.

0

Esperar Pt. 5

Dua bulan sudah aku mengenal Dan Yardley. Rasanya sulit untuk dikatakan apakah aku mencintainya atau tidak. Aku ingat hari itu. Saat ayah memperkenalkanku padanya. Pertengahan musim dingin, Desember, dan sekarang sudah Februari━sebentar lagi musim semi. Pria pirang dengan bola mata biru langit itu tiba-tiba menyusup ke hatiku begitu saja. Dia sudah banyak memberikan memori di otakku, namun aku belum bisa langsung menerimanya dengan masih adanya Ralph di sini.

Dan, yang setiap pagi menjemputku untuk berangkat ke kantor bersama. Hanya di kantor saat kami bekerja pada kesibukan masing-masing. Di istirahat makan siang kami kembali bersama dan sampai pulang ke kerajaan ia mengantarku. Aku mulai mengenal sifatnya yang sangat sopan apalagi kepada wanita sepertiku.

Sampai pada suatu hari, dimana aku mendapatkan sebuah berita yang cukup menggemparkan untukku. Terpidana Ralph Radford akan segera menjalani hukuman matinya. Yakni digantung. Aku kembali bimbang. Aku mulai menyayangi Dan, tapi aku masih mencintai Ralph seperti saat aku bertemu dengannya terakhir kali. Kupertimbangkan apa yang harus aku lakukan. Dan aku mendapat kesimpulan bahwa aku harus menyelamatkan nyawa Ralph sebelum ia melayang pada pukul 00.00 nanti malam.

Aku kabur━lagi. Aku yakin, sangat yakin, bahwa ayah akan benar-benar murka jika tahu aku kabur untuk kedua kalinya. Aku tahu aku sudah berjanji untuk tidak membuat ayahku sakit hati setelah kepergian ibu sekitar hampir setahun lalu. Kurasa itulah janji yang sama sekali tak bisa kutepati.

Marseille pada malam hari cukup dingin meskipun ini sudah pertengahan Februari. Sekitar lima belas hari lagi salju-salju ini akan lenyap menjadi air yang tak ada gunanya. Aku benar-benar sampai di depan Baumettes pada pukul 11.30 p.m. Tiga puluh menit lagi Ralph mungkin sudah tak ada di dunia ini. Aku masuk ke dalam━dan berhasil tanpa adanya sipir yang menangkapku. Sepertinya semua sipir akan menyaksikan eksekusi ini dan tak menjaga penjara dengan ketat.

Penjara labirin ini kembali membuatku bingung dimana aku harus melangkah. Gelap dan suram. Mungkin tempat pengeksekusiannya berada di tengah-tengah penjara━seperti yang sering diceritakan. Aku mencari dan berhasil menemukannya dan dua sipir juga berhasil melihatku. Namun aku lebih beruntung karena aku bisa kabur dari mereka.

Pengeksekusiannya berada di sebuah tanah lapang yang cukup luas. Pintu untuk menuju ke sana tidak ditutup. Aku berjalan mendekat untuk melihat dengan lebih jelas. Di tengah-tengah lapangan ada papan panggung dengan tali tambang yang terlihat kuat digantung di atas kayu-kayu yang mengelilinginya. Banyak sekali sipir di sana, namun tak satupun melihatku di dekat pintu sini. Pintu ini berada dua meter dari tanah, jadi harus menggunakan tangga atau semacamnya agar bisa turun ke bawah atau naik ke atas.

Sekitar lima menit kemudian, pintu besi yang berada di sebelah utara terbuka. Dua sipir berjalan dari depan dengan seseorang di belakangnya, Ralph Radford! Aku ingin sekali berteriak tapi itu akan membuat kematiannya lebih pasti. Jadi aku hanya bisa melihatnya berjalan menuju panggung. Ia hanya memakai kaus tipis putih dengan celana selutut. Wajahnya yang tampan tak terlihat sangat tampan karena ia tahu ia akan segera mati. Rambut pirangnya terlihat berantakan, aku yakin ia tak sempat merawat selama mendekap di tempat bengis ini.

Seorang sipir membuat simpul pada tali tambang yang menggantung di kayu yang mengelilingi papan panggung tadi. Ralph memasukkan kepalanya ke simpul itu dan kini lehernya sudah terikat oleh tambang itu. Sipir yang membuat simpul tadi turun dari panggung. Ralph menutup matanya. Aku ingin menangis dan berteriak memaki mereka semua. Tapi aku takut. Saat tiba pria lain yang mengendalikan kapan papan yang dipijak oleh Ralph terbuka. Sepertinya pria itu yang berhak untuk memutuskan kapan Ralph benar-benar akan mati.

Aku tak tahan. Aku berteriak. Semuanya melihatku━ya, semuanya. Bahkan Ralph melihatku dan matanya membulat. Aku yakin dia pasti tak menyangka aku hadir di acara eksekusinya. Aku berteriak dari atas sini bahwa para sipir itu salah tangkap orang. Kubilang bahwa Inggris tak akan memaafkan ini jika Ralph━yang merupakan warga negara Inggris mati begitu saja. Aku terlalu larut pada pidatoku sampai aku baru menyadari dua orang sipir di belakangku mendekatiku dan memukul kepalaku dengan kayu yang kuat.

Setelah itu gelap.

Written by Hana Annida.

0

Esperar Pt. 4

“Skyla, ini Dan Yardley,” ayah memperkenalkan pria yang duduk di sofa tepat depanku. Ayah pasti sengaja memperkenalkanku dengannya agar aku melupakan Ralph untuk selamanya. Aku memandangnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Seolah dia adalah barang asing yang tiba-tiba masuk begitu saja.

Rambutnya pirang━persis seperti Ralph namun lebih rapi. Matanya biru muda seperti langit dan samudra. Kulitnya lebih putih sedikit dari Ralph. Dan badannya juga jauh lebih besar daripada Ralph. Kuharap aku tidak jatuh cinta padanya. Aku masih ingin membebas Ralph dari kekejaman sipir Baumettes.

“Ayah yakin kalian sudah saling mengenal sebelumnya,” kata ayah.

Ya. Ayah benar. Aku sudah mengenal Dan sebelumnya. Dia juga bekerja di The London Daily, sama sepertiku━tapi dia berada di bagian pengumpulan data dan berita. Tapi aku tak pernah menyapa atau berkomunikasi dengannya. Jika kami bertemu aku hanya bisa tersenyum dan tiga detik menatap matanya. Selebihnya aku tak pernah mencoba bercakap dengannya.

Dan tersenyum menatapku. Aku tidak bisa tidak tersenyum juga padanya━hanya senyum kecil yang penuh sandiwara belaka. Kuharap dia menyadarinya. Ayah yang duduk di sebelah kananku melihat tingkahku. Dia pun tersenyum juga. Sepertinya ayah merasa ia telah menang dan sebentar lagi aku akan melupakan Ralph. Tapi aku tidak bisa.

“Perkenalkan dirimu padanya,” bisik ayah padaku.

“Tidak perlu, Tuan. Biarkan aku dulu yang memulai,” bantah Dan sopan. Suaranya sangat berbeda dengan suara Ralph. Suara Ralph jauh lebih ringan dan santai. Tidak seperti Dan yang berat dan terdengar arogan. Sepertinya ia telah terbiasa dengan keformalan.

“Namaku Dan Aldrich Yardley,” dia tersenyum. “Aku bekerja di The London Daily bagian pengumpulan berita. Well, aku tinggal di Marylebone, lebih tepat di Edgware Road.”

Marylebone berada di utara Mayfair dan Hyde Park Corner, sebelah timur Paddington, sebelah selatan Regent’s Park, dan sebelah barat Fitzrovia. Aku tahu persis letak jalan Edgware. Dulu aku dan ibu sering berbelanja di sana. Itu dulu. Ya, tentu saja.

Ayah menatapku. Aku tahu maksudnya pasti untuk mengenalkan diriku padanya.

“Namaku Skyla Dayton. Pasti ayah sudah bercerita tentangku padamu lebih dari yang aku ketahui.”

Hening sejenak. Dan dan ayah menatapku seolah tak percaya. Aku tahu ini bukan perkenalan yang dimaksud ayah. Yang ia inginkan adalah aku harus mengungkapkan seperti apa aku, pekerjaanku, dan segalanya. Aku lebih suka menggigit jari kakiku daripada harus mengungkapkannya satu demi satu.

“Aku yakin kalian akan lebih dekat jika berangkat dan pulang kerja bersama,” kata ayah.

Tidak ayah. Kau mungkin bisa membawaku jauh dari Ralph, tapi kau tidak bisa membuatku melupakannya. Aku terlalu jauh mencintainya. Sudah sembilan tahun jika dimulai sejak awal kuliah. Aku tidak mungkin langsung melupakan semuanya. Dan kini aku dipaksa untuk mencintai orang yang baru aku kenal.

Dan Yardley. Ralph Badford. Those boys are different by inside or outside. Di mana seharusnya aku berada?

Written by Hana Annida.

0

Esperar Pt. 3

Aku tak bisa tak memeluk tangan kanannya. Kepalaku bersandar di pundaknya dan kini aku mulai terisak. Ceritanya mengenai penangkapannya yang sadis. Ralph bilang bukan dia yang memprovokasi terjadinya pemberontakan ini, melainkan kakaknya, Rhett. Ralph dan Rhett memang mirip meskipun mereka berselisih dua tahun. Aku yakin mereka salah tangkap orang dan mereka tak percaya dengan pembelaan Ralph saat persidangan.

Ia juga bercerita padaku bahwa Rhett merasa benar-benar benci pada negara karena paman mereka, Ackley Radford belum lama meninggal karena kecelakaan terencana yang Rhett yakin ada hubungannya dengan pembunuhan berdarah pada kedua orangtua mereka. Orangtua Rhett dan Ralph dibunuh ketika Ralph masih berusia lima tahun. Pembunuhan itu sudah terencana sebelumnya. Dan kini itu terulang, kepada paman mereka.

Aku mencoba untuk tak hanyut dalam tangis. Aku harus membantunya. Harus. Dan terlintas di pikiranku untuk menyelamatkannya dari Kerajaan Inggris. Ralph adalah warga negara Inggris dan pemerintah Inggris harus selalu melindungi semua rakyatnya━termasuk Ralph di sini. Aku memandangi wajahnya dari bahu kanannya. Tak ada semangat yang terlukiskan dalam parasnya yang menawan. Aku yakin dia pasti sudah gila dan mungkin itu sebabnya mereka menempatkannya di ruangan ini. Ruangan untuk tahanan yang mulai tidak waras.

“Aku akan coba mengeluarkanmu dari sini,” bisikku. Kuharap aku bisa membantunya meskipun aku tak yakin dengan apa yang aku janjikan.

“Jangan berharap,” balasnya. Nada suaranya turun satu oktaf lebih rendah dan lebih tepatnya seperti nada memohon. “Ayahmu pasti akan datang sebentar lagi.”

Dia sudah putus asa. Aku yakin itu. Mata hijaunya terpantul cahaya bulan dari jendela kecil tempat ia menerawang. Pandangannya kosong. Sepertinya ia sudah pergi terlalu jauh. Terlalu jauh sampai ia tak bisa kembali ke nol. Aku ingin menangis tapi itu tak akan membantu sama sekali. Ia pasti sudah yakin matinya tinggal menunggu keputusan hakim.

“Kau ingat apa yang terakhir kau katakan padaku lima tahun lalu?” aku sengaja mengubah pembicaraan karena aku merasa tak akan ada habisnya membicarakan pemberontakan itu.

Ralph memandangku. Aku memandangnya. Kuharap ia mengatakan kalimat semacam persetujuan. Kuharap ia ingat apa yang aku maksud. Tapi tidak. Ia hanya memandanganku dengan membisu.

“Kau bilang kau akan kembali ke Inggris setelah lima tahun. Dan ini sudah lima tahun tapi kau …,” kalimatku terhenti. Sepertinya Ralph sudah tahu ke arah mana topik pembicaraanku dimulai. Ia tersenyum kecil tapi aku segera tahu bahwa senyum itu hanya sandiwara supaya aku bisa tersenyum juga, bukan senyum yang datang dari dalam hatinya.

“Aku ingat. Maafkan aku karena tak bisa menepatinya,” Ralph kembali menerawang melewati jendela penjara. Pemandangan di luar hanya ada salju dan langit biru keunguan yang anggun. “Aku tak berdaya di sini. Maafkan aku.”

Pada poin ini aku mulai merasa hidupku akan sia-sia dan tak berarti lagi. Aku memeluk tangannya makin erat, berharap ia takkan pergi selamanya. Salju berhasil masuk melewati jendela kecil dengan pagar besinya yang sudah karatan. Aku mulai merasa sangat kedinginan karena lantai dan dinding ruangan ini berhasil ditembus hawa dingin dari luar. Seolah aku dan Ralph dibiarkan membeku dalam ruangan yang hanya berukuran sepuluh meter persegi. Bisa-bisa Ralph mati kedinginan di sini sebelum hakim memutuskan hukuman baginya.

Malam begitu cepat merambat. Salju mulai mereda tapi dinginnya udara belum juga hilang. Pintu ruangan terbuka. Dua penjaga berseragam biru tua masuk dan mengangkatku untuk membawaku pergi. Aku berkata pada mereka bahwa Ralph bukanlah orang yang mereka inginkan. Tapi mereka kembali tak membalasku.

Aku dibawa keluar. Jalan penjara tampak makin gelap di malam hari. Dan aku sampai di ruang bawah━seperti lobi kalau di sebuah hotel. Lobi ini berbentuk persegi yang besar dan cukup mewah untuk ukuran penjara tua. Ayahku berada di dekat pria Perancis berseragam biru muda. Mungkin ia ketua penjara ini.

Ayah berlari memelukku. Berita kaburnya aku pasti sudah menyebar di London. Dan pasti petugas di stasiun tadi mengenaliku dan memberitahu pihak yang berwajib. Mereka semua konyol dan aku membencinya. Kuharap ada ruang dimana seorang gadis dari istana untuk berperang.

Aku berkata pada ketua penjaga tadi bahwa Ralph tidaklah bersalah. Sesungguhnya Rhett-lah yang mereka inginkan. Nyawa Rhett-lah yang mereka butuhkan. Aku berhenti bicara. Semuanya menatapku dalam keheningan yang mencekam. Aku memandangi pria Perancis itu. Ia tak bergerak atau bicara sepatah kata pun.

Ayah menarikku untuk pergi. Aku meronta. Ayah memaksaku memasuki mobil kerajaan dan segera pergi dari kota besar ini. Dalam perjalanan ayah menyerbuku dengan ribuan pertanyaan tapi hanya beberapa pertanyaan yang kujawab. Aku mulai gila dengan semua ini. Dan kuharap aku bisa terbang saat ini. Pergi ke sebuah padang rumput atau apapun.

Written by Hana Annida.