0

Happy Halloween!

THIS IS HALLOWEEN! EVERYBODY MAKE A SCENE! TRICK OR TREAT TIL THE NEIGHBOR’S GONNA DIE!! Happy Halloween everyone! Prepare some candies for them. And keep turn on ‘This is Halloween’ with Marylin Manson as the singer! =))

0

Esperar Pt. 8

Ya. Aku berhasil mengatakannya━dengan sempurna. Semua yang sebenarnya ada dalam pikiranku dan semua perasaanku yang ada. Kutatap dalam-dalam mata biru Dan yang juga menatapku tanpa kedip. Mungkin dia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. Aku menatapnya seolah aku adalah seekor singa yang menemukan mata kijang di hutan. Kualihkan tatapan mataku pada ayah yang berada di sampingku. Aku ingin menunjukkan padanya yang sesungguhnya. Yang benar-benar ada dalam diriku.

Diam cukup lama. Bahkan tak ada kalimat setelah pengakuan besarku tadi. Hanya ada suara berita dari radio yang mengiringi perjalanan. Ayah sibuk memandangi pemandangan yang gelap dihiasi salju di luar jendela mobil. Dan hanya tertunduk memandangi sepatu botnya yang mengilap. Aku mengamatinya cukup lama namun dia sama sekali tak mendongakkan kepalanya untuk menatapku. Kalau aku bisa membaca pikirannya mungkin aku akan menyimpulkan bahwa dia akan membenciku━sangat membenciku mungkin.

Menurutku hubungan kami akan menjadi sangat canggung. Dia pasti berpikir aku adalah wanita terkejam sedunia. Yang mencoba mempermainkan perasaannya dengan mengakui sebuah pengakuan sadis yang berhasil menghancurkan hatinya. Mungkin dia berpikir bagaimana dia sangat menyesal telah mengenalku dan akan menghabiskan sebagian hidupnya untuk melupakan semua kejadian yang telah terjadi di antara kita selama dua bulan terakhir. Aku tak pernah habis pikir untuk mencari tahu.

Perjalanan masih sangat jauh sepertinya. Aku benci menunggu sampai di kerajaan. Kupejamkan mataku karena aku merasa aku butuh itu. Dua menit dan aku masih belum bisa tidur dengan nyaman. Mungkin karena jalanan yang dilewati tidak cukup baik.

“Dia sudah tidur,” bisik ayah tiba-tiba. Memejamkan mata bukan berarti aku tidak bisa mendengar apa yang terjadi. Kututup mataku serapat mungkin namun ketajamkan setajam mungkin pendengaranku. Ini saatnya mengetahui pendapat ayah mengenai pengakuanku tadi. “Kau baik-baik saja kan, Dan?”

Suara desahan panjang Dan terdengar, namun aku tak ingin membuka mataku untuk memastikannya. Kupikir sudah waktunya mengetahui pengakuan yang tak kalah sadis dari Dan. Mungkin dia akan menjelek-jelekkan nama Ralph, atau mungkin malah menjelek-jelekkan namaku di hadapan ayahku sendiri.

“Aku baik-baik saja Tuan Dayton, terima kasih,” balasnya pelan. Sepelan-pelan apapun aku masih bisa mendengarnya. “Aku hanya ingin tahu seperti apa Ralph Radford itu sampai membuat dia begitu mencintainya.” Deg! Kembali kupertajam pendengaranku. Aku tidak akan melewatkan momen ketika ayah mendeskripsikan Ralph. Aku berani bertaruh ayah akan menceritakan sisi buruk Ralph.

“Dia memang pria yang tampan tapi kurasa kau lebih tampan darinya,” aku ayah. “Aku tidak begitu kenal dekat dengan anak itu. Seingatku dulu aku menilai dia anak yang kurang peduli dan kurang sopan, jadi aku tak tertarik untuk mengenalnya dengan dekat.” Ya, dia benar. Ayah tak pernah ingin tahu begitu banyak tentang Ralph. Namun ia tak pernah melarangku untuk menghabiskan waktu bersamanya━sama sekali.

“Meski begitu menurut Anda tapi dia tetap sempurna di mata Skyla,” kata Dan yang tiba-tiba membuatku terkejut━dalam keadaan mata tertutup tentu saja. Entah mengapa kalimat Dan yang baru saja dikatakannya begitu menusukku. Sebegitu sakit kah hati Dan? Dan sebegitu kejam kah aku padanya? Dan tiba-tiba aku berpikir bahwa Dan tidak akan membenciku, tapi justru dia akan membenci Ralph. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku berpikir begitu. Itu datang dengan tanpa ada yang mengundangnya.

Aku ingin membuka mataku dan mengatakan padanya bahwa dia tidak perlu membenci Ralph━jika dia memang melakukannya. Dia hanya perlu membenciku. Ralph tidak pernah sekalipun mencoba menghancurkannya. Tapi aku-lah yang telah membuatnya patah hati. Aku terlalu lelah untuk terbangun jadi aku pun mulai membiarkan tubuhku istirahat meski pikiranku tidak. Dan memutuskan untuk tidak mendengarkan percakapan mereka berdua lagi.

Aku mulai tersadar dari tidur saat ragaku sudah tak berada di dalam mobil. Pusing sebentar dan pandanganku kembali normal. Sekarang aku berada dalam sebuah dekapan yang berjalan. Rupanya aku sudah sampai di kerajaan dan Dan menggendongku menuju kamar. Aku menatapnya dan dia menatapku selama tidak lebih dari tiga detik. Ingin rasanya bertanya sesuatu padanya, tapi rasanya leherku terikat tali tambang yang kuat sehingga aku tak bisa berkata apapun.

Dan membuka pintu kamarku dan meletakkanku dari dekapannya di atas ranjang. Ia hendak keluar dengan mulut tertutup━bahkan tersenyum pun tidak. Kupanggil namanya. Ia menoleh menatapku. Entah mengapa aku bisa membaca apa yang ada dalam matanya. Seperti ada siksaan dalam matanya yang begitu pedih. Aku tidak yakin apa itu tapi aku yakin itu membuatnya terjatuh. Dan sepertinya ia tak mengenalnya sama sekali.

“Terima kasih,” kataku. Ya. Hanya dua kata yang bisa keluar dari lisanku. Dan mengangguk pelan seraya menjawab, “sama-sama.” Setelah itu dia menghilang begitu saja. Menutup pintu kamarku dan menghilang. Aku memandangi pintu kamar yang tertutup dan mendesah. Sudah terlambat untuk memintanya kembali.

Written by Hana Annida.